Pasukan Azerbaijan di “Atas Angin”

Sudah ribuan tewas termasuk warga sipil akibat konflik militer kesekian kalinya antara Armenia dan Azerbaijan terkait sengketa wilayah di Nagorno Karabakh, Kaukasus Selatan sejak 27 September lalu (foto; Anadolu)

TERLALU dini untuk memprediksi ”ending” konflik teranyar yang pecah antara dua negara sempalan Uni Soviet di kawasan Kaukasus  yakni Armenia dan Azerbaijan terkait sengketa di wilayah Nagorno Karabakh sejak 27 September lalu.

Di medan tempur, Azerbaijan yang unggul dalam jumlah personil dan koleksi alutsista serta diduga didukung dua ribuan anggota kombatan milisi Suriah binaan Turki, berada di atas angin. Armenia juga menuding pesawat-pesawat F-16  tempur Turki merontokkan dua pesawat Sukhoi SU-25 miliknya.

Satuan darat Azeri didukung artileri berat dan tank-tank tempur utama (MBT) T-72 dan T-90, juga peluncur roket multi laras (MLRS) Grads dan rudal-rudal taktis  Iskander (semua buatan Rusia atau eks-Soviet) dilaporkan sejumlah sumber, Minggu lalu (4/10)  terus bergerak maju ke ibukota Nagorno Karabakh,  Stepanakert.

Melalui berbagai tayangan video, tampak pesawat-pesawat tempur AU Azerbaijan melumpuhkan puluhan tank lawan, situs-situs artileri dan rudal pertahanan udara serta  konvoi truk lawan.

Azerbaijan mengklaim telah berhasil melumpuhkan tank-tank dan menewaskan 2.300 tentara lawan serta mengambil alih desa strategis Madagiz di Nagorno-Karabakh, sebaliknya pihak  Armenia mengaku berhasil menahan gerak maju pasukan lawan.

Menurut catatan, Armenia dan Azerbaijan sama-sama mengoperasikan sistem rudalpertahanan udara buatan eks-Soviet yang cukup canggih  seperti  S-200 dan S-300 yang mampu menjangkau sasaran udara yang berbeda pada jarak ratusan Km sekaligus.

Enclave di wilayah Azerbaijan

Nagorno Karabakh sendiri adalah wilayah kantong (enclave) seluas 4.000 Km2  berpenduduk sekitar 145.000 jiwa, mayoritas etnis Armenia yang sudah memerdekakan diri dari Azerbaijan pada 1990 namun belum diakui internasional termasuk oleh Armenia sendiri.

Sekitar 30.000 orang tewas dalam perang kemerdekaan saat itu, sementara negosiasi yang berlangsung terkait  status Nagorno-Karabakh  mengalami jalan buntu dan terhenti setelah gencatan senjata 1994, bahkan Armenia dan Azerbaijan kembali terlibat konflik pada 2016.