Mata Air Gerakan Zakat

"Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta dunia, akan tetapi kekayaan yang hakiki itu adalah kaya akan jiwa" (HR Al-Bukhäri-Muslim).

Nana Sudiana, Sekjend FOZ dan Direktur IZI. (Dok. Pri)

Amil zakat bukanlah malaikat. Bukan pula Nabi atau orang soleh yang suci. Walau begitu, ada sifat seorang daí dalam diri seorang Amil, yakni menyeru pada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Sifat ini sesungguhnya bagian langsung seorang amil yang juga mukmin sejati. Selain sebagai duát, yang menyebarkan ajaran zakat dan kebaikan infak dan sedekah, amil juga harus amanah dan pumya kekayaan jiwa bak seorang ulama. Setidaknya seorang manusia yang menjadi daí bagi lingkungan terdekatnya.

Dari sisi ilmu, bisa jadi amil belumlah cukup dianggap seorang daí. Pun dari amal dan aktivitas dakwah yang dilakukan, mungkin pula tak memadai. Namun, seorang amil tetap harus berkaca diri pada sosok-sosok ikhlas yang ada pada diri para ulama, daí dan orang-orang soleh. Ini semua karena tak lain, seorang amil adalah sosok biasa yang ingin jadi orang baik dan mampu memberikan kebaikan pada manusia lainnya. Sosok amil, tetap harus melatih dirinya untuk punya kekayaan jiwa.

Tulisan sederhana kali ini, bermaksud mendeskripsikan perasaan amil ditengah dinamika yang terjadi. Dinamika kehidupan sosial, ekonomi, serta interaksi dirinya dengan gerakan zakat yang amat dinamis. Dinamika ini juga meliputi situasi lahir, batin dan segenap perasaan seorang amil ketika berada dalam kehidupan-nya dalam melayani mustahik dan membantu muzaki menunaikan zakatnya.

Dakwah Para Amil
Seorang amil juga sekaligus daí. Ada kewajiban dalam dirinya untuk berbuat baik dan bersama-sama orang baik lainnya membantu banyak orang untuk bisa berislam dan menjadi mukmin yang baik. Inilah esensi dakwah dalam Islam. Dan terkait hal ini, menurut Quraish Shihab : “dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsafan, atau usaha mengubah situasi yang tidak baik kepada situasi yang lebih baik dan sempurna baik terhadap pribadi maupun masyarakat”.