28 Jurnalis Alami Kekerasan saat Liput Demo Tolak UU Cipta Kerja

JAKARTA – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat sebanyak 28 jurnalis mengalami kekerasan saat sedang melakukan peliputan aksi penolakan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja, Kamis (8/10).

Ketua Bidang Advokasi AJI, Sasmito Madrim mengatakan data itu dihimpun AJI dari 38 kota di Indonesia, terbanyak terjadi di Jakarta, dan kasus kekerasan paling banyak terjadi di Jakarta ada delapan kasus.

Kasus kekerasan pada jurnalis saat liputan Omnibus Law Cipta Kerja lainnya terjadi di Kota Surabaya dengan enam kasus, Samarinda enam kasus, lalu Semarang dan Palu masing-masing tiga kasus.

Sasmito menyebut semua kasus kekerasan tersebut dilakukan oleh pihak kepolisian. Hal ini tidak beda jauh dengan catatan AJI dari aksi protes serupa yang terjadi November lalu.

Selain dari wartawan profesional, Sasmito mengungkapkan korban kekerasan juga dialami oleh jurnalis kampus.

“Ada juga enam pers kampus yang ditahan di beberapa kota. Ada di Surabaya dua kasus, Bandung ada satu, dan di Jakarta ada tiga,” ujarnya.

AJI berharap agar pelaporan kekerasan pada jurnalis yang terjadi pada peliputan tersebut dapat diselesaikan sesuai Undang-Undang (UU) Pers yg berlaku, berdasar pasal 18 UU No 40 tahun 1998 tentang Pers.