Luka Lama Armenia dan Azerbaijan

Bagi Azerbaijan, Nagorno-Karabakh merupakan bagian integral dari negara Azerbaijan dan diakui oleh PBB dan memiliki catatan pemukiman Muslim berabad-abad oleh Persia dan Seljuk Turki.

Sebaliknya, orang Armenia meyakini, Nagorno-Karabakh yang menjadi bagian kekaisaran Rusia pada awal abad ke-19 dijadikan wilayah otonomi Azerbaijan (Oblast Otonomi Nagorno-Karabakh – NKAO) hanya karena “inisiatif pribadi” pemimpin Soviet saat itu, Joseph Stalin.

Orang-orang Armenia juga tidak pernah melupakan aksi amok massa di Sumgait di Azerbaijan pada Februari 1988 yang menyebabkan tewasnya sedikitnya 26 etnis Armenia.

Sebaliknya etnis Azerbaijan juga mengingat peristiwa kelam akibat penembakan terhadap ratusan etnis mereka oleh etnis Armenia di wilayah Khojaly pada 1992.

Kedua negara yang masih menyisakan kejayaan alutsista Soviet seperti rudal-rudal taktis Iskander dan Tochka yang mematikan, tank-tank utama (MBT) T-72 dan T-90 serta pesawat-pesawat tempur Sukhoi SU-30 saling gempur sejak 27 September lalu.

Dalam konflik kali ini, pasukan Azerbaijan yang unggul dalam jumlah personil, didukung milisi binaan Turki di Suriah dan kabarnya juga persenjataan dan drone-drone Turki, sementara berada di atas angin.

Sejatinya, untuk menyongsong masa depan yang damai dan hidup berdampingan, sejarah kelam dan sengketa masa lalu harus dikubur dalam-dalam.

Nyatanya, hal itu cuma mudah diomongkan, sulit direalisasikan.                                    (AP/AFP/Reuters/ns)