Nobel 2020: Penghargaan untuk Pembebas Kelaparan

Program Pangan Dunia (WFP) PBB dianugerahi penghagaan Nobel perdamaian 2020 atas kiprah dan dedikasinya memerangi kelaparan yang dialami ratusan juta penduduk dunia.

BEBAS dari rasa lapar adalah persoalan paling hakiki bagi kehidupan umat manusia, sehingga tanpa solusi terkait hal ini, mustahil aktivitas lainnya bisa dilakoni.

Ekstrimnya, tanpa pendidikan atau dengan tingkat kesehatan yang rendah pun, manusia masih bisa bertahan hidup walau tidak wajar. Bayangkan, jika mengalami kelaparan!

Untuk itu, pas rasanya jika Program Pangan Dunia (WFP) yang bernaung di bawah PBB dan didirikan pada 1961 dianugerahi penghargaan Nobel Perdamaian 2020, hadiah uang 1,1 juta dollar AS (sekitar Rp15,9 milyar) dan medali emas.

Pada 2019 saja WFP tampil sebagai “juru selamat” dengan  mendistribusikan bantuan pangan bagi 99 juta orang di 88 negara yang terlibat konflik di tengah era dimana satu dari sebelas orang atau sekitar 690 juta warga dunia hidup dalam kondisi perut kosong.

Melaksanakan program perdana di Sudan pada 1963, WFP memanfaatkan berbagai moda transportasi  seperti kuda, onta bahkan gajah, selain helikopter, pesawat dan kapal angkut dan saat ini sudah memiliki 30 kapal dan 100 pesawat angkut serta 5.600 truk yang disiapkan untuk mendistribusikan bantuan pangan.

Ketua Komite Nobel, Berit Reiss-Andersen saat acara penganugerahan Nobel 2020 di Oslo (9/10)  berharap agar momen kali ini  membuka mata dunia pada jutaan orang yang menderita atau menghadapi ancaman kelaparan.

Menurut dia, kelaparan dan konflik merupakan siklus  ganas atau lingkaran setan yang sering memicu kerawanan pangan, sebaliknya, kerawanan pangan dan kelaparan juga bisa memantik konflik dan aksi kekerasan.

Andersen menyebutkan, peran WFP kini semakin relevan seiring meningkatnya jumlah orang yang terancam atau sedang menderita kelaparan akibat konflik, ditambah pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 juga meningkatkan jumlah orang kelaparan  terutama di negara-negara di Afrika yang terlibat konflik seperti Burkina Faso (lima juta orang),  Republik Demokrasi Kongo, Nigeria (300.000) dan Sudan Selatan (5,5 juta), Suriah (4,5 juta  dan Yaman (20 juta).