Covid-19: Vaksin Masih Tumpuan Harapan

11 views
Vaksin Sinovac-PT Biofarma, G-42 buatan UEA dan buatan Astra-Zeneca bersama Oxford University diharapkan siap awal 2021 dan juga bisa digunakan di Indonesia untuk memerangi Covid-19. Vaksin bukan satu-satunya cara, kepatuhan terhadap protokol kesehatan juga harus tetap dilakukan.

SELAIN penanganan pasien di rumah-rumah sakit rujukan, program isolasi bagi orang terinfeksi dan juga soialisasi protokol kesehatan, vaksin tetap menjadi tumpuan harapan dalam perang melawan Covid-19.

Pemerintah RI saat ini sudah menyiapkan 100 juta dosis vaksin buatan perusahaan Astra-Zeneca (AZ) yang pembuatannya berkolaborasi dengan Oxford University, Inggeris.

Menko Bidang Perekonomian, juga Ketua Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erlangga Hartarto menyebutkan, pada tahap awal, AZ akan memasok 50 juta dari total 100 juta dosis vaksin yang dipesan RI.

Guna menciptakan herd immunity (kekebalan massal), dua pertiga atau 170 juta dari total 270 juta penduduk RI harus diberi vaksin Covid-19, sehingga untuk program vaksinasi bertahap sampai 2022 (satu orang dua kali suntikan), diperlukan 320 juta dosis vaksin.

Selain vaksin AZ yang diharapkan bisa diproduksi awal 2021, kebutuhan vaksin bakal dipasok dari vaksin Sinovac, China bekerja sama dengan PT Biofarma, vaksin G-42 buatan  Sinopharm, China bersama Uni Emirat Arab dan vaksin “Merah-Putih” produksi Lembaga Eijkman.

Jika ketiga bakal vaksin sudah pada tahap ke-3 uji klinis melibatkan ribuan relawan, bakal vaksin Lembaga Eijkman baru pada tahap skala laboratorium dan diharapkan memasuki tahapan uji praklinis, selanjutnya uji klinis pada 2021.

Ironisnya, hasil survei daring Laporcovid19 baru-baru ini mencerminkan rendahnya penerimaan responden terhadap vaksin Covid-19. Dari 2.109 responden, mayoritas sarjana dan S-2 (67 persen), hanya sepertiganya (31 persen) yang bersedia menerima vaksin Sinovac-Biofarma, dan 44 persen yang bersedia menerima vaksin Merah-Putih.

Rendahnya pemahaman dan juga keyakinan masyarakat terkait evikasi atau kemanjuran  vaksin untuk melindungi diri dari Covid-19 serta kekhawatiran adanya efek samping agaknya melatarbelakangi hasil survei sehingga perlu dilakukan edukasi lebih intensif lagi.