BIMA BUNGKUS

70 views
Brotosena nggak ada sopan santunnya sama sekali pada Betara Bayu. Berkacak pinggak seperti ngajak berantem.

DALAM musim demo, peran nasi bungkus demikian besar. Dia bahkan bisa menjadi tolok ukur untuk mendeteksi kemurnian sebuah demo. Jika produk nasi bungkus dari rumah rumah makan atau katering meningkat pesat, itu berarti demo pesanan. Tapi jika produk nasi bungkus sepi tau normal-normal saja, itu pertanda tak ada rekayasa politik untuk sebuah demo. Sayangnya BPS tidak pernah memantau perkembangan jual beli nasi bungkus setiap hari dan bulannya.

Di negeri Ngastina, Prabu Pandu juga sedang pusing memikirkan urusan bungkus- membungkus. Tapi bukan soal nasi bungkus, melainkan bayi bungkus atas kelahiran anak pertamanya. Ketika Dewi Kunti melahirkan, tak ada tangisan bayi secuilpun. Karena yang lahir dari rahim ibu tersebut bukan bentuk bayi, tapi hanya seonggok benda yang terbungkus kulit tebal dan lembut. Jadi mirip risoles. Hanya karena benda berbungkus itu bergerak-gerak, diyakini bahwa itu memang berisi bayi.

“Brekencong war doyong, elekkkk-elekkk……Tenang saja, Pandu dan Kunthi. Nggak papa, itu isinya memang bayi. Itu sudah kehendak yang Akarya Jagad. Kelak dia akan menjadi tokoh ngetop, maka syaratnya harus kalian buang dulu di hutan Mandalasana. Lakukanlah….,” kata suara tanpa rupa, tapi dari “password”-nya sepertinya itu suara Betara Narada.

“Masak bayi dibuang, pukulun. Jika ketahuan polisi, kami bisa ditangkap.” Jawab Pandu Dewanata.

Suara tanpa rupa itu memang Betara Narada dari kahyangan Suduk Pangudal-udal, tak jauh dari Tukmudal, Purworejo. Pandu pun diajari bagaimana membuang bayi bungkus secara tepat dan aman. Dan pesan beliaunya atas petunjuk SBG (Sanghyang Betara Guru), bayi itu akan pecah dari bungkusnya 4 tahun ke depan, dan menjadi tokoh penting nasional. Capres 2024? Bisa jadi, karena jika Jonggring Salaka berkehendak, dalang ora kurang lakon!