RS Achmad Wardi Bagi Dhuafa Bayarnya Doa

Seremonial pemberian donasi oleh BPKH kepada RS Achmad Wardi (foto:kbknews)

SERANG – Indonesia telah mencanangkan diri untuk memusatkan perhatian pada masalah kebutaan, karena hal tersebut merupakan tertinggi di Asia Tenggara akibat katarak. Berdasarkan laporan Badan Pusat Stastistik (BPS), kelompok usia diatas 55 tahun diperkirakan menjadi 61 juta pada tahun 2025. Jumlah total penderita kebutaan di Indonesia juga akan terus bertambah dengan peningkatan kasusbaru sebanyak 0,1 persen atau 210.000 kasus baru setiap tahunnya.

Rumah Sakit (RS) Mata Achmad Wardi yang didirikan dari pengelolaan dana wakaf oleh Badan Wakaf Indonesia dan Dompet Dhuafa menjadi satu-satunya di Asia Tenggara yang dibangun melalui dana wakaf. Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Nasyith Majidi menjelaskan tingkat kebutaan banyak dialami oleh kaum Dhuafa, dan untuk memeriksa mata pun tidak ada yang murah dan itu memberatkan bagi kaum Dhuafa.

“RS Achmad Wardi ini bagi Dhuafa bayarnya doa, jadi didoakan rumah sakit ini bisa bertahan sampai akhir zaman, bisa berkembang dan melayani dhuafa tidak hanya di Serang tapi nantinya berkembang di seluruh Indonesia,” ucap Nasyith dalam talkshow Grand Launching Retina dan Gloukoma Center RS Achmad Wardi, Serang, Rabu (21/10/2020).

Ketika ditanyakan bagaimana cara mengumpukan dananya, selain membantu mengelola RS tersebut, Nasyith bertutur Dompet Dhuafa tidak hanya mengelola RS Mata, tetapi ada beberapa RS yang dikelola seperti RS Ibu & Anak, RS Umum, dan layanannya memang sangat penting concern untuk kaum Dhuafa.

Dompet Dhuafa itu sebenarnya bukan siapa-siapa, kecuali menerima amanah dari orang-orang baik diseluruh Indonesia, sampai di luar negeri. Jadi kita hanya agregrator sebuah kebaikan, bahwa misalnya ingin mengembangkan RS mata disini atau kebutuhannya alkes disini kita sampaikan kepada donatur, wakif, yang ingin berinvestasi dengan cerdas yang return nya bukan hanya di dunia tetapi sampai di akhirat nanti,” sambung Nasyith.