Demi Bebaskan Warganya, AS Ogah Kendorkan Kebijakan Di Suriah

Sekitar 900-ribu lagi pengungsi Suriah membanjiri Turki dan Yunani akibat eskalasi pertempuran memperebutkan Idlib dan Aleppo antara pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad melawan pemberontak sejak Desember lalu. Sudah 6,7 juta warga Suriah mengungsi, terbanyak di Turki (3,6 juta).

JAKARTA – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo menegaskan, pihaknya tidak akan mengubah kebijakan mengenai Suriah, demi membebaskan warga AS yang ditawan pasukan Suriah.

“Tugas kami adalah, memastikan Suriah membebaskan (Austin) Tice. Beri tahu kami, caranya bagaimana. Mereka (Suriah) tidak mau berdiskusi dengan kami,” ujar Pompeo dalam konferensi pers pada Kamis (22/10) waktu AS, dikutip rmol.

“Kami berupaya keras memulangkan Austin dan juga warga Amerika lainnya yang ditahan. Kami tidak akan ubah kebijakan, demi mencapai tujuan itu,” tegasnya lagi.

Pernyataan Pompeo ini menanggapi kabar kepergian pejabat kontra terorisme AS ke Damaskus awal tahun ini demi membahas kebebasan Tice, seorang wartawan lepas yang menghilang pada 2012. Selain Tice, juga ada seorang seorang terapis psikis AS, Majd Kamalmaz yang hilang sejak 2017.

Pompeo tidak secara langsung membahas kunjungan Damaskus ketika ditanya mengenai rencana AS menarik sebagian pasukannya dari sana. AS punya 600 pasukan yang bertugas di Suriah. Dia jua tak menjelaskan, apakah pengurangan pasukan itu merupakan upaya untuk membebaskan Tice.

“Presiden telah mengatakan dengan jelas, kami tidak membayar untuk pengembalian sandera. Kami bekerja demi kembalinya warga kami,” tegas Pompeo.

Pasukan AS dikerahkan di Suriah utara sebagai bagian dari koalisi internasional untuk memerangi sisa-sisa kekuatan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Mereka juga ditugaskan menjaga keamanan ladang minyak di wilayah tersebut.