Di Antara Sampah Pemuda

52 views
Pendemo yang kerjanya bikin rusuh dan merusak asset negara, adalah bagian dari sampah pemuda. (CNN)

TANGGAL 28 Oktober 2020 kemarin kita memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-92. Dalam usia sepanjang itu lebih dari 4 generasi telah dilahirkan. Tapi karena pengaruh globalisasi zaman ditopang kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, tak semuanya bisa setia pada semangat kesumpahpemudaan tersebut. Ada yang merasa tak nyaman sebagai Bangsa Indonesia, sehingga gerakan separatisme belum juga sirna. Ada juga sekelompok massa yang masih merasa bangsa Indonesia, tapi tak mampu merawat kebinekaan di dalamnya. Kerjanya bikin onar dan merusak asset negara di tengah dinamika membangun negara. Itulah sampah pemuda!

Bung Karno dulu mengatakan, berikan aku 10 pemuda, akan aku goncang dunia! Allah Swt mengabulkan, ribuan pemuda telah diberikan-Nya. Berkah itu semua, dimulai dari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, Sumpah Pemuda 29 Oktober 1928, Proklamasi 17 Agustus 1945, gerakan para pemuda berbagai generasi itu telah mengguncang penjajah Belanda dan Jepang. Alhamdulillah kini kita telah menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat, meski masih banyak juga “ulat”-nya di sana sini.

Di masa Bung Karno, ulat-ulat negara biasa disebut kontra revolusi atau kaum reaksioner, karena menghambat jalannya revolusi kita (Jarek). Presiden Sukarno lengser 1967, revolusi belum selesai itu dilanjutkan oleh Pak Harto (Orde Baru) sampai Mei 1998. Tapi karena ulatnya semakin banyak, meski diteruskan oleh BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, revolusi belum selesai juga. Nah, oleh Presiden Jokowi mulai Oktober 2014 maunya ulat-ulat negara itu diselesaikan melalui revolusi mental.

Tapi sepertinya revolusi mental itu kini sudah mental entah ke mana! Faktanya ulat-ulat negara dalam berbagai bentuk terus mengganggu jalannya revolusi kita. Tapi maklum, tantangan Jokowi sekarang lebih berat dan kompleks ketimbang para pendahulunya. Jaman Pak Harto belum ada internet, kecuali harnet dan kornet. Ulat-ulat negara lebih mudah dibasmi, di antaranya melalui alat negara yang didwifungsikan.