Ruwetnya Menetapkan UMP

Lima provinsi termasuk DKI Jakarta tetap menaikkan UMP2021, padahal, Menaker dalam Surat Edarannya meminta UMP2021 tidak naik, mengingat banyak kegiatan usaha terpuruk akibat pandemi Covid-19.

MEMUTUSKAN untuk menaikkan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2021 bagi pengusaha di tengah kelesuan kegiatan usaha akibat pandemi Covid-19, dilematis bagai menghadapi buah si malakama.

“Tidak menaikkan UMP, bisa berujung demo para pekerja sehingga kerugian makin membengkak, sementara menaikkannya di tengah  kelesuan usaha dan rendahnya daya beli masyarakat juga berisiko termasuk harus mem-PHK pekerja.

Kementerian Tenaga Kerja, memahami kesulitan yang dialami kegiatan usaha, menerbitkan Surat Edaran (SE) No. M/11/HK.04/X/2020 tentang Penetapan Upah Minimum 2021 memuat permintaan agar UMP 2021 sama dengan UMP 2020 alias tidak naik.

Namun paling tidak, lima wilayah (Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, DI Yogyarakra dan Sulawesi Selatan memilih tetap menaikkan UMP 2021 sesuai SE Menaker tersebut dengan formulasi berbeda.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang biasa tampil “beda” dan gemar mengolah kata, menyebutkan ia memberlakukan kebijakan UMP “asimetris” berupa kenaikan UMP 2021 menjadi Rp4.416.186 atau kenaikan 3,2 persen dari UMP 2020.

Alasannya, demi menjunjung keadilan, sementara perusahaan yang usahanya terkena imbas Covid-19 dapat mengajukan keberatan kepada Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi DKI Jakarta untuk tidak memberlakukan UMP 2021.

Sektor-sektor usaha di DKI Jakarta yang tak terdampak pandemi a.l.telekomunikasi, otomotif dan kesehatan, sedangkan yang terdampak misalnya pusat perbelanjaan, perhotelan, wisata dan kuliner.

Bisa kah dieksekusi?

Apakah peraturan itu bisa diberlakukan sesuai sasaran, wallahu alam,  mengingat dalam prateknya nanti, bisa jadi, bakal banyak keberatan yang diajukan pengusaha untuk tetap memberlakukan UMP 2020, belum lagi, jika terjadi kongkalingkong (mudah-mudahan tidak).

Anies sendiri menyebutkan, keputusannya memberlakukan UMP2021 asimetris karena ia melihat, masih ada sektor usaha yang tidak terlalu terdampak Covid-19.