BEGAWAN DORAWECA (1)

Begawan Durna kesal pada Begawan Doraweca, sesama anggota Watimja tapi demen cari popularitas sendiri.

PERTAPAN Jati Bedugan sudah beberapa tahun ini terasa sepi, para cantrik tak satupun nampak di padepokan. Bukan mereka belajar online dari rumah masing-masing gara-gara Covid-19, tapi jauh sebelum pandemi Corona pertapan itu sudah kosong. Soalnya, Begawan Doraweca pemiliknya sedang pergi keluar negeri dengan alasan menambah ilmu di negeri Traju Lamatan. Tapi entah kenapa, Begawan Doraweca jadi betah banget di sana, sampai-sampai padepokannya tak diurus.

Awalnya Begawan Doraweca juga menjadi konsultan agama di negeri Ngastina pimpinan Prabu Jakapitono. Dia setingkat dengan Pendita Durna dari Sokalima. Bedanya adalah, Durna merupakan penasihat spiritual, sedangkan Doraweca khusus membidangi soal moral. Maka urusan pengembangan budi pekerti di Ngastina, yang ngatur ya Begawan Doraweca ini. Sayangnya, Begawan Doraweca ini terlalu nyinyir wayangnya, segala kebijakan Prabu Jokopit –begitu panggilan akrabnya–  selalu dikritisi.

“Apa itu, jadi raja duduk di dampar Ngastina saja tak mampu, lalu bikin dampar sendiri buatan Klender. Anak SMP juga bisa, tapi kan nggak legitimid….” Kata Begawan Doraweca, dan langsung dikutip pers media cetak dan online di mana-mana.

“Bagaimana dengan skandal Bale Sigala-gala yang tewaskan 6 orang tak dikenal?” pancing pers, mengungkit masa lalu.

“Sama saja itu. Itu utang Kejaksaaan Agung yang tak terbayar hingga kini. Mestinya Patih Sengkuni dan Dursasono diusut, mereka kan aktor intelektualnya.” Kata Begawan Doraweca makin bersemangat.

Sebetulnya masalah skandal Bale Sigala-gala sudah terjadi 50 tahun lalu, dan ketika itu Begawan Doraweca belum ada di Ngastina. Tapi karena dibisiki LSM, begawan dari Jati Bedugan itu jadi tahu. Ndilalahnya dia pernah minta BOP (Bantuan Operasional Pertapan) tapi tak digubris oleh Prabu Jokopit. Nah, kasus ini lalu dijadikan modus, buat menyinyiri raja Ngastina sampai menyonyor.