Jalur Evakuasi Pengungsi Merapi di Boyolali Menyempit akibat Erupsi Tahun 2010

Gunung Merapi /Ist

BOYOLALI – Dua titik jalur evakuasi pengungsi erupsi Gunung Merapi di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, semakin menyempit setelah terkena erupsi tahun 2010.

Jalur yang menyempit di jembatan gantung penghubung Dukuh Takeran dan Dukuh Belang, serta tikungan setelah jembatan menuju desa penyangga di Kabupaten Magelang.

Kepala Desa (Kades) Tlogolele, Ngadi mengatakan, kedua titik jalur evaluasi di wilayahnya ini tergolong rawan. Jembatan gantung antara Dukuh Belang dan Dukuh Takeran cukup sempit.

“Jembatan permanen kena erupsi tahun 2010 lalu, sampai kini belum terealisasi,” kata Ngadi, Minggu (15/11/2020). Jalur evakuasi yang menyempit lainnya berada di dekat tempat penampungan pengungsi sementara (TPPS) Desa Tlogolele.

Jalan ini menuju desa penyangga saat warga Desa Tlogolele perlu dievakuasi ke sister village di Kabupaten Magelang.

“Jalannnya juga sempit, dipakai papasan kendaraan angkutan tidak bisa,” katanya. Saat erupsi Merapi dalam skala besar, warga Desa Tlogolele diungsikan ke Desa Mertoyudan dan Desa Bumirejo di Kabupaten Magelang.

Sekretaris Desa (Sekdes) Tlogolele, Neigen Achtah Nur Edy Saputra melanjutkan, pihaknya sudah mengusulkan ke Pemprov Jawa Tengah terkait perbaikan jalur evakuasi yang menyempit di dua titik.

Hanya saja diakuinya, perbaikan tidak bisa dilaksanakan saat ini mengingat Merapi telah berstatus siaga. Masyarakat mengusulkan agar dibuat jembatan permanen di bawahnya agar jalur menjadi lurus dan mudah dalam evakuasi.

“Dari Propinsi sudah merespon dan datang ke lokasi, termasuk mengecek jalur evakuasi,” ujarnya, dikutip iNews.