Awas! Resesi dan Pandemi Gelombang II

26 views
Indonesia telah memasuki resesi ekonomi pada Quartal-III, 2020, sementara pandemi Covid-19 belum bisa dikendalikan. Perlu antisipasi dan kesiapan lebih serius menghadapi Gelombang II pandemi dan Resesi yang lebih dalam lagi.

RESESI ekonomi yang dialami Indonesia mulai kuartal ketiga 2020 akibat imbas pandemi Covid-19 yang penyebarannya terus terjadi  sampai hari belum ada tanda-tanda kapan berakhir, bahkan bisa berlanjut ke Gelombang ke-2 atau seri berikutnya.

Terkait pandemi Covid-19 yang terlacak sejak 2 Maret lalu, jumlah korban meninggal sampai (16/11) tercatat 15.296 orang, kasus orang yang terpapar 470.468 dan yang sembuh 395.443 orang.

Melalui beberapa kali program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan di sejumlah wilayah sejak April, penyebaran virus tenyata belum bisa dikendalikan, terus terjadi fluktuasi bahkan tren peningkatan jumlah kasus paparan harian Covid-19.

Tren paparan Covid-19 yang menurun sejak 8 Okt. (4.850 kasus) sampai angka di bawah 3.000 kasus, tepatnya 2.853 kasus pada 9 Nov.   ternyata melonjak lagi, bahkan memecahkan rekor baru pada 13. Nov. menjadi 5.444 kasus.

Akumulasi persoalan, mulai dari ketidaktegasan pemerintah, pusat dan daerah  serta pejabat terkait lainnya, lemahnya pengawasan dan juga rendahnya disiplin sebagian warga mematuhi protokol kesehatan berkontribusi pada lonjakan penyebaran Covid-19.

Isu Covid-19 bahkan menaikkan tensi politik nasional akibat pro-kontra pasca kepulangan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab (RHS) dari Tanah Suci (10/11) yang melanggar protokol kesehatan akibat rangkaian kegiatannya mulai dari penyambutan oleh puluhan ribu massa di Bandara Soeta, acara Maulid Nabi dan pesta pernikahan anaknya.

Desakan dari berbagai tokoh dan publik agar penyelenggara acara diusut dilontarkan sejumlah tokoh agama dan masyarakat, para pakar kesehatan bahkan publik, juga tudingan, pemerintah tidak bernyali, bungkam dan tebang pilih terhadap pelaku pelanggaran protokol kesehatan.

Banyak juga yang mempertanyakan, jika pelaku pelanggaran berasal warga biasa, didenda atau dikenakan sanksi sosial, sebaliknya HRS dan pengikutnya tidak diapa-apakan, bahkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sowan ke kediaman HRS dan Wagub Ahmad Riza Patria menghadiri salah satu acara tersebut.