Pakar Gempa, Setelah Gempa 6,3 SR di Mentawai Jangan Terlena

PADANG – Pakar Gempa sekaligus mantan Kepala Bidang Geologi dan Airtahan Dinas ESDM Sumbar Nuzuwir melihat gempa yang terjadi di Mentawai tersebut titik koordinatnya pas dijalur Megatrust Mentawai, penyebabnya akibat tekanan Lempeng Samudra, Hindia, Australia di sebelah baratnya ke bawah zona subdiksi Pulau Sumatera.

“Kalau melihat gempa ini yang paling terdampak Pulau Pagai Utara, Sipora, Tua Pejat. Perkampungan warga di sekitar sana terdampak karena guncangannya cukup kuat mungkin 4 atau 5 Modified Mercalli Intensity (MMI),” sebut Nuzuwir saat dihubungi Harianhaluan.com, Selasa (17/11/2020).

Menurut Nuzuwir, gempa yang terjadi Mentawai kali ini pengaruh paling besarnya didorong dari Lempeng Samudra karena menekan dari bawah laut. Lempeng Samudra Australia-Hindia ini ditandai dengan munculnya gempa-gempa di pematang Samudra tersebut.

“Itu yang memicu gempa-gempa di benua kalau dilihat secara ilmu tektonik lempengnya. Dari tanda-tanda alam kita mengkorelasikan, kalau kita orang agama dikaitkan dengan agama karena bumi dan langit itu satu. Seperti dilihat dari awan gempa bisa sebagai reflektor, tergantung kita membacanya,” ujar Nuzuwir.

Nuzuwir pun memprediksi, jika gempa terjadi di atas 6 magnitudo beberapa menit ataupun satu jam lebih kemudian akan terjadi gempa susulan, namun dipantau dari EMSC belum ada. Maka dapat diartikan akan ada gempa berikutnya, bukan gempa susulan lagi.

Dikatakannya, kalau gempa berikutnya terjadi di titik koordinat di Pulau Pagai dan Siberut dengan kekuatan 6 magnitudo tidak menutup kemungkinan akan terasa kembali getarannya ke Padang, bahkan sampai ke Sijunjung, dan Dharmasraya.

Maka dari itu, Nuzuwir menyarankan kepada pemerintah agar tetap melakukan edukasi ke masyarakat supaya tidak panik. Dia juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan perlu menyiapkan kesiapsiagaan, apalagi yang berada di zona rawan tsunami.

“Jangan sampai terlena, jika seandainya terjadi setidaknya masyarakat sudah siap menghadapi bencana, sudah tahu kemana harus evakuasinya, karena waktunya disaat terjadi gempa yang disertai tsunami itu masyarakat hanya bisa menyelamatkan diri sekitar 20-30 menit,” tukasnya seperti dikutip dari Haluan.