Sekolah Dibuka Lagi, Siapkah?

25 views
Mendikbud merencanakan pembukaan bertahap Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah mulai 1 Jan. 2021. Dipertanyakan, kesiapan prasarana di sekolah, guru, siswa dan murid, juga komitmen Pemda yang selama ini dinilai rendah terhadap pembangunan infrastruktur protokol kesehatan d sekolah.

MENDIKBUD Nadiem Makarim mengijinkan kembali Pembelajaran Tatap Muka (PTM) berjenjang mulai 1 Januari 2021 setelah beberapa bulan diberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat pandemi Covid-19.

Singkatnya, wewenang pemberian izin PTM yang diatur dalam SKB mendikbud, menag, menkes dan mendagri memberikan kewenangan pada pemda (kanwil pendidikan/kantor agama wilayah).

PTM dapat dilakukan (tidak wajib) serentak  di satu kabupaten atau kota,  per tiap kecamatan, desa atau kelurahan atau berjenjang sesuai izin kanwil pendidikan atau kantor agama, mengacu pada usulan sekolah, kesiapan menjalankan PTM dan persetujuan orang tua.

Dengan terbitnya SKB empat menteri itu, berarti peta zonasi penyebaran Covid-19 sebelumnya yang dijadikan acuan pemberian izin PTM di sekolah tidak berlaku lagi dan kini wewenang ada di tangan pemda yang diangap paling paham kondisi di lapangan.

Namun Mendikbud mengingatkan pemda agar tetap menimbang-nimbang risiko penyebaran Covid-19, kesiapan fasilitas kesehatan dan pihak sekolah sesuai daftar periksa, akses sumber belajar serta kondisi psikososial murid.

Mengacu hasil survei WVI, Kemdkibud dan Predikt (Kompas 21/11), 76 persen guru masih mengkhawatirkan keamanan mereka, guru, siswa dan orang tua jika diberlakukan PTM.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak (KPAI) Ratna Lystyarti bahkan menilai, pemberian wewenang penetapan PTM pada pemda sangat berbahaya,  mengingat tidak banyak pemda yang peduli pada infrastruktur protokol kesehatan.

Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman juga mengingatkan,  pemda baru bisa memberlakukan PTM jika penyebaran virus Covid-19 sudah bisa dikendalikan dan rasio kasus positif di bawah lima persen dalam dua pekan berturut-turut.

PJJ sebelumnya memunculkan ekses sampai ada murid yang bunuh diri karena frustrasi,  ortu tak mampu membelikan gadget atau paket pulsa, kendala jaringan listrik dan internet, kompetensi murid, guru dan orangtua dalam sistem daring.