SETYAKI MANEGES (1)

Patih Udawa protes atas aksi kurang ajarnya Begawan Sasrasewindu, tapi Prabu Kresna santai saja.

SUHU politik di negeri Dwarawati mendadak panas belakangan ini. Seorang pendita neneka (pendatang) bernama Begawan Sasrasewindu, bikin pertapan di perbatasan negeri Dwarawati, wilayah Bantalarekta. Padahal itu masih wilayah negeri Dwarawati juga. Itu artinya dia menyerobot lahan orang tanpa membebaskan dulu dan tanpa urus IMB pula.

Aneh bin ajaib, meski baru beberapa bulan berdiri, cantrik pengikutnya sudah banyak. Yang membuat kalangan wayang terheran-heran, Begawan Sasrasewindu ini jika memberi pelajaran pada muridnya bukan membahas soal ilmu agama dan kebatinan, tapi justru mengkritisi para pemimpin di Dwarawati dan Mandura. Dia bilang bahwa status kepemimpinan kedua negara itu tidak legitimid.

“Baik Mandura dan Dwarawati, itu sebetulnya hak leluhur kami Kangsadewa, karena dia anak Prabu Basudewa. Dan Baladewa serta Kresna penguasa kedua negara itu, terlibat konspirasi pembunuhan leluhurku Prabu Kangsadewa.” Ujar Begawan Sasrasewindu.

“Kok bapa begawan tahu sedetil itu, datanya dari mana?” seorang cantrik bertanya.

Ketika Begawan Sasrasewindu menyebut Wikileaks, segenap cantrik seasrama bertepuk riuh. Padahal data itu tak seluruhnya (100 persen) benar, masih banyak pula data  semir. Mendingan sumir Kiwi, bisa bikin sepatu mengkilat. Tapi karena yang ngomong begawan panutan mereka, ya pura-pura percaya saja, ketimbang di DO.

Prabu Kresna sih diam saja atas ocehan Begawan Sasrasewindu yang lebih banyak ngawurnya itu. Baru sewindu saja sudah begitu, apa lagi sampai 4 windu apa nggak semakin kacau. Tapi sebagai penguasa di Dwarawati, Prabu Kresna tetap mewaspadai sepak terjang begawan emigrant itu. Prinsipnya, kalau sudah keterlaluan baru mau “digigit” dengan caranya sendiri.

“Gusti Prabu Kresna, kenapa Begawan Sasrasewindu ngomong begitu kok nggak diperintahkan tangkap. Makin gede kepala dia…” Patih Udawa protes dalam sebuah kesempatan.