RUU Keluarga Sakinah

Dalam setiap khotbah nikah, pembentukan keluarga sakinah sering menjadi topik bahasan para penghulu.

KELUARGA sakinah merupakan dambaan setiap rumahtangga, keluarga bahagia nan sejahtera tanpa lepas dari sendi-sendi agama. Tapi faktanya tidak mudah. Dalam khotbah Jumat, dalam khotbah nikah, termasuk dalam pengajian-pengajian; topik tersebut sering dibahas, tapi dalam masyarakat terus saja ditemukan keluarga amburadul. Maka para wakil rakyat di DPR terketuk hatinya untuk membuat UU Ketahanan Keluarga. Jika berhasil, diharapkan keluarga sakinah mawadah warahmah akan berhasil.

Sejak Februari lalu para wakil rakyat di Senayan berkutat dengan naskah akademis, untuk membahas RUU Ketahanan Keluarga. Sesuai dengan namanya, RUU itu berharap jika telah menjadi UU dan diteken Presiden akan menjadikan rakyat Indonesia tahan akan goncangan dan gempuran dalam keluarga. Tak ada lagi orang menceraikan istri atau suaminya. Tak ada lagi para penderita kelainan seks mengganggu lingkungan. Tak ada lagi suami yang hanya petentang-petenteng di rumah, sementara istrinya kerja banting tulang untuk mencari nafkah bagi keluarga.

RUU yang terdiri dari 146 pasal dan 15 bab itu diinisiasi oleh PKS, Golkar, Gerindra dan PAN. Mereka resah dan gelisah akan kondisi masyarakat Indonesia dewasa ini. Keluarga yang jadi pemegang utama pembangunan karakter anak bangsa, banyak yang meleset dari harapan. Kelurga sakinah kebanyakan hanya terhenti dalam teori saja. Tak banyak keluarga-keluarga sakinah itu. Kalau keluarga punya pembantu atau anak bernama Sukinah, memang banyak!

Lewat pasal 25 ayat 2 dan 3 disebutkan,  seorang suami berkewajiban mencari nafkah untuk keluarga, sementara istri merawat dan mendidik anak-anak di rumah. Ideal sekali ketentuan dalam pasal itu, dan ini sering dibahas dalang Ki Anom Suroto, lewat adegan Limbukan. Jika suami mampu mencukupi segala kebutuhan anak istri, seorang istri di rumah tugasnya hanya mamah karo mlumah. Mamah adalah makan, dan mlumah adalah melayani suami di ranjang.