SETYAKI MANEGES (2)

Setyaki dipersilakan Betara Penyarikan untuk makan nasi bungkus sisa demo UU Cipta Kerja.

DI kahyangan Jonggring Salaka Sanghyang Betara Guru (SBG) tengah sidang selapanan dihadiri Patih Narada dan sejumlah dewa elit sebangsa Betara Penyarikan dan Betara Indra-Sambu. Semua patuh pada protokol kesehatan, masing-masing berjarak minimal 2 meter, mulut terbungkus masker harga Rp 3.000,-an di minimarket. Demi pengiritan, Betara Narada selalu cuci kembali maskernya dan dipakai lagi. Padahal aturannya tidak boleh.

“Kakang Narada, kenapa gerangan Setyaki malah tekun bertapa, padahal negeri Dwarawati sedang genting.” Ujar SBG membuka persidangan.

“Pusing dia, ngkali! Mengabdi di Dwarawati karier mentok, cuma jadi Menhan, nggak mungkin menggeser posisi Samba Wisnubrata. Pulang ke Lesanpura, Prabu Setyajid meski sudah tua juga tak mau melepaskan tahta untuk anaknya.” Jawab Patih Narada macam pengamat politik saja.

Sesungguhnya, ketika Begawan Sasrasewindu bikin heboh di Dwarawati, sampai-sampai baliho protesnya dicabuti, kahyangan Jonggring Salaka sedang mempersiapkan naskah Kitab Jitapsara. Kitab itu berupa skenario Perang Baratayuda Jayabinangun (PBJ) 2024. Tim-9 yang dipimpin Betara Penyarikan tengah menyiapkan DIT (Daftar Isian Tokoh) yang layak dan patut jadi senapati Baratayuda.

Semua tokoh yang masuk atas dasar pilihan Jonggring Salaka, bukan usulan dari ngercapada. Wayang ngercapada khususnya dari Ngastina dan Pendawa, boleh saja memberi masukan, tapi belum tentu dipakai. Kalaupun materi usulan itu masuk, bisa saja karena memang sudah masuk agenda kahyangan. Betara Guru juga menegaskan, Tim-9 tidak melayani surat-menyurat. Kesannnya memang seperti lomba TTS, tapi beda.

“Ada masukan dari ngercapada, agar Semar dipertandingkan dengan Togog, bagaimana menurut penilaian pukulun Betara Guru?” ujar Betara Penyarikan.

“Jangan diterima! Jika mereka dipertemukan di Perang Baratayuda, kapan selesainya? Mereka kan bebas dari kematian, sama-sama sakti pula. Itu bisa bikin pembengkakan anggaran Perang Baratayuda. Coret saja itu…..”, titah Betara Guru.