756 Anak Pengungsi Ditahan di Malaysia

Ilustrasi pengungsi rohingya/ Anadolu

KUALA LUMPUR – Pada bulan Desember, ketakutan Rafiullah, pengungsi dari Rohingya di Malaysia timbul ketika mengetahui keponakannya yang berusia 14 tahun tertangkap saat mencoba memasuki Malaysia. Ia masuk dengan berjalan kaki.

Anak laki-laki itu sekarang menjadi bagian dari 756 anak pengungsi yang ditahan di Malaysia menurut menteri dalam negeri Malaysia, yang mengutip catatan imigrasi 26 Oktober 2020, dan sepertinya 405 di antaranya, merupakan kerabat Rafiullah dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

“Ini adalah waktu dimana keponakan saya harus belajar, tapi dia kini harus menjalani hukumannya,” kata Rafiullah, seorang pengungsi Rohingya dari Myanmar, kepada Al Jazeera. “Aku khawatir hidupnya akan hancur”.

Pemerintah Malaysia telah bekerja dengan masyarakat sipil selama bertahun-tahun untuk mencari alternatif penahanan bagi imigrasi khususnya anak-anak. Kini, mereka sendirian terpisah dari keluarga mereka.

Namun sampai saat ini alternatif itu belum ada, sementara itu, ratusan anak mendekam dalam penahanan, yang menurut para ahli dapat merusak kesejahteraan fisik dan psikologis mereka.

“Jika seorang anak ditemani atau tidak ditemani, baik pengungsi atau pekerja migran tidak berdokumen, mereka tetaplah anak-anak,” kata profesor Noor Aziah, komisaris anak-anak pada Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia, yang dikenal dengan akronim Melayu SUHAKAM, kepada Al Jazeera. “Pemerintah harus menempatkan kepentingan terbaik anak-anak sebagai prioritas pertama.”

Rafiullah, yang telah memperingatkan kerabatnya di Negara Bagian Rakhine Myanmar agar tidak melakukan perjalanan berbahaya untuk bergabung dengannya. Ia sangat terkejut, September 2019, ketika mengetahui bahwa dua keponakannya, yang masih siswa sekolah dasar, telah hilang dari desa mereka.

Tiga bulan kemudian, dia menerima telepon dari seorang pedagang manusia di Thailand, menuntut 16.000 ringgit Malaysia ($ 3.900) untuk setiap anak agar mereka menyelesaikan perjalanan ke Malaysia.