Target Swasembada Kedelai, Terlupakan ?

Melonjaknya harga kedelai juga ikut mengatrol harga tempe dan tahu, jika tidak diakali oleh penjual, keratannya dipertipis.

GEJOLAK harga kedelai yang menjadi bahan utama tahu dan tempe bakal muncul terus jika Indonesia terus tergantung dari impor dari Amerika Serikat dan China dan melupakan target swasembada yang pernah dicanangkan di era Orba dulu.

Target swasembada di era pemerintah Presiden Soeharto tahun 1980-an dulu tidak pernah terwujudkan hingga kini, bahkan seolah-olah terlupakan karena berbagai dalih, misalnya melonjaknya konsumsi kedelai untuk keperluan lainnya seperti pakan ikan dan industri serta keterbatasan lahan untuk mengembangkannya.

Sejumlah perajin tahu an tempe memutuskan untuk mogok produksi dan penjualan sebagai bentuk protes harga bahan baku kedelai yang enjadi bahan mentah panaganan utama itu terus melonjak.

Salah satu yang melakukan mogok adalah Sahabat Perajin Tempe Pekalongan (SPTP) Indonesia yang mogok produksi dari 30 Desember 2020 sampai 1 Januari 2021 dilanjutkan mogok penjualan mulai 1 Januari sampai 3 Januari 2021.

“Harganya (bahan baku) naik dan terkontrol,” kata Ketua SPTP Pekalongan Mua’limin saat dihubungi di Jakarta, Sabtu, 2 Januari 2021.

Tak hanya SPTP Indonesia, sebelumnya sebanyak 5.000 pelaku usaha kecil dan menengah atau UKM di DKI Jakarta menghentikan proses produksi tahu dan tempe selama tiga hari. Mogok kerja dilakukan mulai dari 1 Januari hingga 3 Januari 2021.

Di tengah kondisi ini, Mua’limin pun berharap impor kedelai bisa dikembalikan kepada Perum Bulog . Selama ini, ketika impor kedelai dipegang oleh importir dan harga terus berfluktuasi. “Masalahnya, harga terus tidak stabil,” katanya.

Sementara Ketua Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin sebelumnya menyebutkan kenaikan harga kedelai yang didominasi oleh impor  sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Ia menduga lonjakan harga kedelai sebagai dampak meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Cina.