Dilema, pilih PTM atau PJJ

Sekolah di 16 provinsi belum siap membuka sekolah lagi atau melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Yang menyatakan sudah siap pun harus diawasi terus, apa prasarana sarana sekolah sudah memenuhi protokol kesehatan, juga pengawasan terhadap anak didik mereka.

DARI sekolah-sekolah di 34 provinsi, baru di 14 provinsi yang menyatakan siap memulai lagi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) karena menganggap hal itu berisiko tinggi jika dipaksakan, selebihnya tetap memilih melanjutkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Empat provinsi lainnya memberlakukan program campuran antara PJJ dan PTM dan 16 provinsi lainnya memutuskan memperpanjang PJJ. Opsi antara melanjutkan PJJ atau membuka sekolah melalui PTM memang dilematis, karena sama-sama sarat persoalan dan risiko.

Bagi sekolah-sekolah yang memberkukan perpanjangan PJJ, Kemdikbud akan menyalurkan batuan kuota internet yang mekanismenya akan diperbaiki.

Ke-14 provinsi yang siap memberlakukan PTM yakni Bali, Bangka Belitung, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kepulauan Riau Lampung, Maluku Utara, Riau, Sumatera Selatan,Sulawesi Barat,  Sulawesi Selatan,Sulawesi Tenggari dan NTB. Empat provinsi yang memberlakukan PJJ dan PTM yakni Maluku, NTT, Sumatera Barat dan Papua.

PTM mau pun PJJ sama-sama bermasalah. Program PJJ tidak efektif, selain guru, orang tua dan murid yang sebagian gaptek, sibuk atau alasan lain, akses internet juga sering bermasalah, belum lagi ketidak kemampuan orang tua membelikan gadget dan kuota pulsa untuk anak-anaknya.

Sebaliknya, PTM juga sama. Selain kesiapan pihak sekolah mengawasi anak didiknya untuk mematuhi prokes, banyak juga yang belum memiliki prasarana yang dibutuhkan seperti toilet yang higienis, wastafel dengan air mengalir, thermo gun dan lainnya.

Selain itu, para orang tua juga mengkhawatirkan, anak-anak mereka terpapar dalam perjalanan menuju atau pulang dari sekolah.

Dalam SKB yang diterbitkan sebelumnya, PTM bisa (tidak diwajibkan) atas kesepakatan pemda (Dinas, Kanwil Pendidikan setempat), wilayah Kantor Kementerian Agama, satuan pendidikan dan orang tua murid.

Berdasarkan hasil polling, mayoritas anak didik menginginkan PTM karena kejenuhan melakukan PJJ, merasa tidak efektif karena kesulitan mengakses atau menerima pelajaran dari guru atau aorang tua dan alasan lainnya.