Aib di Negara Mbahnya Demokrasi

Penyerbuan ke gedung parlemen AS oleh massa pendukung presiden petahana Donald Trump di Washington DC (6/1) aib bagi negara kampiun demokrasi tersebut. Dilaporkan empat perusuh tewas dan 52 ditangkap polisi.

AKSI pendudukan gedung parlemen Amerika Serikat oleh ratusan massa pendukung Presiden Donald Trump merupakan corengan ke wajah negeri itu yang sudah memiliki tradisi demokrasi hampir 300 tahun.

Walau pun prinsip demokrasi dan  pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif dan judikatif atau disebut sebagai Trias Politika digagas oleh pemikir Perancis Montesquieu (1689 – 1755), AS banyak menginspirasi, menciptakan jurisprudensi dan tatanan konsep kedaulatan rakyat tersebut.

Dalam peristiwa kekerasan di kantor parlemen AS, Capitol di Washington DC tersebut dilaporkan empat orang tewas dan 52 perusuh  ditangkap.

Aparat keamanan baru mampu mengatasi situasi setelah gedung tersebut dikuasai perusuh sekitar empat jam dan berpose di ruang Senat dan di kantor Ketua Parlemen, Nancy Peloci.

Sementara presiden terpilih Joe Biden menyebutkan peristiwa itu merupakan serangan terhadap demokrasi yang belum pernah terjadi dalam sejarah AS modern.

“Bangsa kita sudah lama menjadi suar harapan dan pancaran demokrasi yang kini menghadapi saat gelap, “ ujarnya.

Presiden AS sebelumnya, Barrack Obama mengecam aksi anarkis tersebut dan menuding peristiwa itu karena dipicu hasutan Trump yang menyebarkan kebohongan, adanya kecurangan dalam Pemilu lalu yang dimenangkan oleh Joe Biden.

Kongres sendiri, Kamis dinihari (7/1) meratifikasi perolehan suara dalam Pilres yang digelar 3 November lalu, dengan perolehan suara electoral 306 untuk Biden dan 232 suara untuk Trump.

Trump sendiri pada hari yang sama juga mengeluarkan rilis memuat janjinya untuk melakukan “transisi tertib” saat penyerahan mandatnya kepada Biden pada 20 Januari nanti.

“Ini momen aib besar bagi bangsa kita”, kata Obama dan menilai narasi kecuragan pemilu yang dihembuskan oleh Trump sebagai “hayalan”  yang lepas kendali sehingga memicu “crescendo kekerasan”.

Ia lebih jauh menyebutkan, sejarah akan mengingat kekerasan hari ini di Capitol, yang dipicu oleh seorang presiden yang terus berbohong tanpa dasar tentang hasil pemilihan yang sah.

Sementara mantan presiden dari Partai Republik George Bush mengaku malu atas insiden tersebut. “Kejadian itu dilakukan oleh orang-orang yang terbujuk kepalsuan yang terus didengung-dengungkan, “ ucapnya.

Trump sendiri akhirnya mau mengakui hasil pemilu walau ia masih mencoba berkilah, tetap tidak setuju dengan hasil perolehan suara, namun menjanjikan peralihan kekuasaan yang tertib, 20 Januari nanti.

Pelajaran bagi Indonesia yang penduduknya beragam, sebagian besar literasi politik warganya yang rendah dan sebagian masih dikungkung kemiskinan sehingga mudah diprovokasi dan dihasut, sementara di negara kampiun demokrasi yang sudah mapan seperti AS pun, terjadi.