BEGAWAN YAKSAKUMARA (3)

Begawan Yaksakumara langsung pucet begitu ketemu Kyai Semar.

SEBAGAI begawan Yaksakumara memang tidak punya patih, dia hanya memiliki asisten begawan Tumenggung Gandaprameya dibantu Tumenggung Reksapradata selaku penasihat hukum atau pengacara. Inilah pembantu paling ulet dan militant. Sebab sebagai pengacara dia lagaknya sudah macam pemilik pertapan itu sendiri. Tumenggung Reksapradata tak sekedar menjadi konsultan hukum tapi juga mewakili suara pertapan Glagah Tinulak.

Begawan Yaksakumara punya rencana, bila pertapan di gunung Serandul ini bisa dikuasai secara permanen, nantinya akan disulap menjadi sebuah negara.Wilayah negara Ngamarta akan terus diserobot berkelanjutan. Dia akan menjadi raja secara permanen. Apakah tidak janggal begawan kok jadi raja? Pemimpin umat cantrik kok mengatur negara? Ya enggaklah, di Indonsia Ketua MUI juga bisa jadi Wapres.

“Paman tumenggung Gandaprameya, jika kahyangan Jonggring Salaka memberi restu, pertapan ini akan ingsun kembangkan menjadi kerajaan. Kamu mau nggak jadi patihnya nanti?” ujar Begawa Yaksakumara berandai-andai, jika tak mau disebut menggantang asap.

“Mau sajalah, siapa tak mau peningkatan martabat dan martabak. Keren kan, dari Tumenggung jadi Patih. Tapi biar jadi patih, gue nggak mau kayak Patih Sengkuni.” Jawab Tumenggung Gandaprameya lagi.

“Bener, bener. Nanti negara sendiri, dinyinyiri sendiri……” kata Begawan Yaksakumara sambil acungkan jempol.

Demikianlah, Begawan Yaksakumara bukan sekedar wacana. Dia benar-benar mengerahkan ribuan lasykar cantriknya untuk menggempur kerajaan Ngamarta. Dan  ternyata sang begawan masih winongwong jawata (dilindungi Tuhan). Hanya dalam tempo enam jam, para petinggi Ngamarta berhasil diringkus dan dipenjarakan. Selain keluarga Pendawa sebagai pejabat elit, ditangkap pula Haryo Setyaki, sapukawat Dwarawati.

Mereka ditahan di Gedong Waja, diberi baju warna oranye dan makanannya pun standar LP, nasi pera dengan lauk ikan asin.  Di situ  juga tak ada “bilik asmara” sebagaimana di Sukamiskin Bandung, karena tak ada napi yang mau keluar modal seperti suami artis Inneke Koesherawati. Mikir urusan perut saja tak terpenuhi, apa lagi untuk urusan di bawah perut.