Hikmah di Balik Musibah

Musibah pandemi Corona belum usai, datang musibah lain dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

KETIKA terjadi suatu musibah, selalu ada hikmah di belakangnya, sebagaimana yang terjadi atas pesawat Sriwijaya Air SJ-182, Sabtu siang. Sejumlah orang awalnya merasa kecewa ketika gagal terbang ke Pontianak dengan pesawat tersebut. Tapi begitu tahu Sriwijaya Air SJ-182 jatuh berkeping di laut Kepulauan Seribu dengan korban tewas 62 orang, bersyukurlah mereka yang tak jadi naik pesawat celaka itu.

Seperti biasa, setiap kali terjadi kecelakaan pesawat, kondisi kelaikan pesawat selalu menjadi kecurigaan pertama. Dan ternyata pesawat Boeing 737-500 milik Sriwijaya Air SJ-182 ini telah berusia 26 tahun, sejak terbang pertama kali Mei 1994. Kata pengamat penerbangan, usia pesawat bukan ukuran, yang penting perawatan terjamin. Karenanya, meski pesawat sudah tua diharapkan oleh pemiliknya tetap rosa-rosa macam Mbah Marijan.

Sayangnya Mbah Marijan sendiri tewas oleh letusan Gunung Merapi yang dijaganya  pada 26 Oktober 2010. Dan Boeing Sriwijaya SJ-82 tiba hari naasnya ketika jatuh di Kepulaun Seribu Sabtu 9 Januari 2021 dengan menewaskan 50 penumpang dan 12 awak kabin. Indonesia kembali berduka. Ketika wabah Covid-19 belum juga usai datang pula musibah lain.

Kuasa Illahi atas umat-Nya. Di situ telah ditentukan nasib 62 anak manusia menemui ajal di saat yang sama. Dan di situ pula terselamatkan sejumlah nyawa dari musibah, ketika mendadak membatalkan penerbangannya bersama pesawat yang sama. Awalnya memang kecewa, tapi ketika tahu apa yang terjadi kemudian, mereka sangat bersyukur. Di balik musibah memang selalu ada hikmah di belakangnya.

Seperti nasib Paulus Yulius Kolo, dan Indra Wibowo ini misalnya. Mestinya siang itu kedua karyawan perusahaan telekomunikasi tersebut naik Sriwijaya Air SJ-182 untuk ke tempat tugasnya di Pontianak. Saat berangkat dari Makasar-Jakarta keduanya lolos test PCR di Bandara Sultan Hasanudin. Tapi giliran penerbangan Jakarta-Pontianak, keduanya tak lolos test standar swab di Bandara Sutta. Tak ayal keduanya tak bisa berangkat meski namanya ada dalam manifest.

Dan ternyata, ketika Paulus-Indra Wibowo ganti naik kapal Tanjung Priok-Makasar, Sabtu sore di tengah laut menerima kabar bahwa Sriwijaya Air SJ-182 yang mustinya ditumpangi, mengalami musibah. Keduanya pun berpelukan, bersyukur pada Sang Pencipta, karena beda standar tes Corona itu telah menyelamatkan nyawanya.

Ini berkebalikan dengan nasib Didik Gunardi, 48, pilot Nam Air. Keluarga besarnya tenang-tenang saja ketika mendengar berita jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-180. Begitu juga ketika kemudian nama pilot tersebut masuk manifest pesawat naas itu. “Nggak mungkinlah, wong pilot Nam Air kok jadi korban maskapai penerbangan lain.” Begitu pikir mereka. Tapi ternyata memang benar adanya. Sebab Didik Gunardi saat itu ikut penerbangan Sriwijaya Air SJ-182 untuk ambil pesawat Nam Air di Bandara Supadyo.

Gagal naik pesawat gara-gara kantong cekak, adalah hal menyakitkan. Tapi bagi keluarga Atmabudi Wirawan asal Pontianak kali ini justru sangat menguntungkan. Ceritanya, Sabtu siang itu keluarganya sebanyak 8 orang sudah membeli tiket Sriwijaya Air SJ-182 Jakarta-Pontianak. Tapi setibanya di bandara ternyata tak bisa naik karena hasil test antigen ditolak, harus tes Swab, padahal harganya selangit. Maka mereka hanguskan saja tiket itu dan memilih naik kapal dari Tanjung Priok yang hanya Rp 220.000,- perorang. Ternyata, ketika mereka sudah berada di kapal, dapat kabar bahwa pesawat yang sedianya mau ditumpangi jatuh di laut Kepulauan Seribu. Mereka pun bersyukur, Allah Swt masih memperpanjang usia sekeluarga dengan cara ini. Inilah hikmah dari pembatalan itu.

Demikianlah, masih banyak kisah-kisah ajaib seputar tragedi Sriwijaya Air SJ-182 ini. Inti dari semua itu adalah bahwa, kematian itu milik Allah semata. Dialah yang menentukan ajal setiap orang. Bila sampai waktunya, kematian tak bisa dimajukan ataupun dimundurkan. Dalam Qur’an Allah berfirman, “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (Surat Yunus ayat 49). – Cantrik Metaram.