Vaksin Rakyat Intensivikasi

RABU lalu (13/01) Presiden Jokowi di Istana Negara sudah menjalani vaksinasi perdana untuk vaksin Covid-19, sekaligus menjawab tantangan kelompok yang tak percaya akan kemanjuran vaksin made in RRC tersebut.. Lalu kapan vaksinasi untuk rakyat? Kata Menkes Budi Gunadi Sadikin, diperlukan waktu 3,5 tahun untuk memvaksin 181 juta rakyat Indonesia. Lama juga ya? Belajar dari program TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi) jaman Orde Baru, dapatkah kiranya pemerintah menggelar VRI (Vaksin Rakyat Intensifikasi), sehingga penyuntikan vaksin Covid-19 itu lebih cepat dan merata?

Karena kisah kelabu hubungan Indonesia – RRT pasca pemberontakan G.30.S/ PKI, hingga kini masih banyak orang membenci Negeri Tirai Bambu itu. Apapun produksi mereka ditolaknya. Padahal budaya dan makanan dari RRC terus kita pakai sampai sekarang. Baju koko, awalnya adalah juga dari RRC, sehingga ada istilah baju potong Cina, kacang Cina, bahkan berbuka tanpa kolak berisi pacar Cina terasa kurang afdol juga rasanya.

Maka ketika Indonesia mengimpor vaksin Covid-19 merk Sinovac yang asal Cina, banyak orang mencurigai kehalalannya. Kelompok ini menuntut disertifikasi halal dulu oleh MUI. Dan setelah dinyatakan halal oleh MUI, masih menuntut pula, harus lolos seleksi BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan). Setelah dinyatakan oke oleh BPOM, masih parikan lagi, berani tidak Presiden Jokowi sebagai “kelinci percobaan” untuk menjalani suntikan perdana?

Rabu pagi lalu sekitar pukul 10:15, Presiden Jokowi menjalani suntikan vaksinasi tersebut. Ternyata aman-aman saja, kan? Tapi ada pemandangan aneh di sini. Dokter senior yang memvaksin Presiden tampak grogi, gemetaran tangannya. Bisa grogy akan charisma seorang presiden, bisa juga karena cemas. Misalnya presiden sakit setelah vaksinasi ini, tentunya dokter ini khawatir dituduh malpraktek.