AJI KOPID SELAWE (1)

Siapa wayang perempuan nyinyir berambut cepak kayak lelaki itu, Betara Surya tak berani beberkan sekarang.

TIBA-TIBA saja potongan bata merah banyak dicari. Bukan ditumbuk untuk pengganti semen, tapi untuk obat gabagen yakni gatal-gatal seluruh tubuh. Meski bukan penyakit mematikan, tapi sangat menjengkelkan karena orang tak basa lagi fokus akan pekerjaanya. Sepanjang hari hanya krik-krikan tidak keruan. Paling memalukan jika rasa gatal itu sampai ke yang dalem-dalem. Tak digaruk terasa gatal, tapi digaruk di depan umum juga bikin malu.

Negeri Ngastina dewasa ini kondisinya seperti itu. Dari rakyat hingga pejabat mengalami penderitaan yang sama, terkena penyakit gabagen secara masal. Karenanya Prabu Suyudana yang lebih dikenal sebagai Jakapitono atau popular disebut Jokopit, segera menggelar sidang selapanan. Yang hadir bukan saja Patih Sengkuni, tapi juga Pendita Durna dari Sokalima. Prabu Baladewa dan Adipati Karno kali ini absen, karena dilaporkan keduanya juga terkena gatal-gatal seluruh tubuh.

“Wakne Gondel, mendekat sini dong, masak peserta sidang menjauhi Prabu Jokopit,” ujar Patih Sengkuni sebelum sidang dimulai.

“Sudah sini saja, nggak papa. Dari sini juga dengar kok.” Jawabnya pendek.

Rupanya dia terkena gabagen juga, sampai-sampai pakai jubah rangkap dua. Maksudnya tak lain, agar obat Salep 88 yang dipakaianya tak tercium ke mana-mana. Nggak etis kan, sowan raja yang dipertuan agung kok bau salep.  Padahal aslinya bau itu tercium juga oleh Prabu Jokopit, hanya beliaunya tak mau permalukan Pendita Durna di depan publik.

Demikianlah, siang itu sidang kerajaan Ngastina tengah membicarakan persiapan menghadapi wabah gabagen yang melanda secara nasional. Bukan saja mempersiapkan anggaran pengobatan, tapi juga cara mengantisipasi agar penyakit itu tak berjangkit kembali. Obat bata merah yang ditumbuk, sebetulnya hanya obat darurat, yang sangat tidak hiegenis. Karenanya tak direkomendasikan oleh pemerintahan Prabu Jokopit.