AJI KOPID SELAWE (1)

“Sebagai pimpro, saya menunjuk bapa Pandita Durna, karena Bapa Durna adalah tokoh senior di Ngastina. Saya minta pula, bapa Durna bisa maneges (mohon petunjuk) pada dewa kahyangan, apa obat pandemi gabagen ini.” Kata Prabu Jokopit.

“Aduh, mohon maaf anak prabu. Jangan sayalah, nggak enak pada Resi Bisma. Dia kan lebih senior.” Ujar Pandita Durna mencoba menawar.

“Dia memang senior jika ukurannya umur. Tapi pengalaman, Wakne Gondel jauh lebih mumpuni,” potong Patih Sengkuni.

Kenapa Pendita Durna menolak sebagai Pimpro pemberantasan wabah gabagen di Ngastina? Di samping tidak enak pada resi dari Talkanda tersebut, sebetulnya anggaran untuk meneges (berdoa pada dewa) itu kecil sekali. Berapa sih biaya untuk beli kembang dan kemenyan? Nggak sampai Rp 50.000,- Maka sebagai proyek sama sekali tak bisa dimainkan, dan Pendita Durna jadi tak semangat karenanya.

Tapi karena Prabu Duryudana memohon dengan sangat, bahkan SK-nya sudah dibuat, akhirnya pendita Sokalima itu tak bisa menolak. Itu artinya, mulai hari itu dia harus banyak bekerja yang sifatnya perjuangan, bahkan kalau perlu harus rogoh kantong sendiri alias nombok. Coba bagaimana rasanya, yang lain nantinya memperjualkan obat penangkal gabagen, dia sendiri kantongnya tongpes.

“Oke, jabatan ini saya terima karena kepepet. Tapi demi cintaku pada rakyat Ngastina, akan saya kerjakan,” jawab Pendita Durna.

“Nah, gitu dong! Ini baru pendita yang cinta tanah air.” Sanjung Patih Sengkuni.

Tidak salah memang Prabu Jokopit menunjuk Begawan Durna sebagai pimpro penanggulangan gabagen. Sebab dia banyak koneksi di kahyangan. Bahkan salah satu bidadari Jonggring Salaka bernama Dewi Wilutama, juga pernah dipersuntingnya, terlepas dari caranya yang tidak etis bahkan hina. Bagaimana mungkin Dewi Wilutama yang dalam bentuk seekor kuda karena sedang dikutuk dewa, dikencani juga. Jika Asmuni Srimulat masih hidup pastilah akan dibilang, “Durna ini wayang cap apa?”