AJI KOPID SELAWE (1)

Sebagai penasihat spiritual atau ahli nujum raja Ngastina, maneges adalah bagian dari tugasnya. Karenanya dia sebagai Pimpro pemberantasan wabah gabagen sama sekali tak ada hak keuangan yang baru alias gaji. Dan sejak SK pengangkatan diterima, malam harinya Begawan Durna mulai masuk sanggar pamujan (tempat semedi). Kembang dan kemenyan termasuk air sumur dari 7 tempat, dibeli dengan dana sendiri. Biaya property itu setidaknya menghabiskan dana Rp 50.000,-

“Bagaimana Bapa Durna, sudah ada info menarik dari kahyangan?” begitu Prabu Jokopit telpon ke Pendita Durna, seminggu setelah nujum Ngastina itu menjalani ritualnya.

“Belum ada kabar baik, masih sepi-sepi saja anak Prabu. Mungkin dewa takut juga ke ngercapada, khawatir kena gabagen, krik-krikan sepanjang hari,” jawab Pendita Durna.

Begitulah, tepat 30 hari setelah Pendita Durna semedi setiap malam, pada malam Jumat Kliwon barulah ada dewa turun ke Sokalima, namanya Betara Surya lengkap dengan APD (alat pelindung diri). Kata beliaunya, pandemi gabagen akan sirna asalkan ditumbali wayang perempuan yang berpotongan rambut pendek seperti lelaki. Wayang perempuan yang suka nyinyir itu nantinya diblender, kemudian ekstraknya dijadikan serum dan vaksin. Yang sudah terkena mendapat suntikan 1 dosis sebagai serum, dan yang belum terkena cukup setengah dosis sebagai vaksin.

“Nama serum atau vaksin itu ulun namakan Aji Kopid Selawe (25). Ini harus disuntikkan pada segenap penduduk Ngastina, baik yang sudah terjangkit (serum) maupun yang belum terkena (vaksin). Insya Allah dalam waktu setaun pandemi akan beres.” Kata Betara Surya bisik-bisik.

“Lalu siapa kira-kira wayang yang bakal dibuat tumbal tersebut, pukulun?” Pendita Durna bertanya penasaraan,

“Ini harus dirahasiakan dulu. Sebab jika disebut sekarang, ulun bisa dituduh menyebarkan kegaduhan di tengah masyarakat, nanti dipolisikan orang. Sudah ya, ini dulu…..” jawab Betara Surya dan kemudian menghilang.