Bencana Alam Bertubi-tubi

Banjir besar di Kalsel, dicurigai akibat eksploitasi sumber daya alam.

MEMASUKI tahun 2021 kita serta merta disongsong berbagai musibah. Pandemi Corona saja belum sirna, disusul jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Setelah itu gempa bumi Majene-Mamuju dan banjir Kalsel. Belum lagi gunung meletus dan tanah longsor di berbabagai tempat, dari Manado hingga Jember. Bencana alam yang datang bertubi-tubi sebagai pertanda apa? Keserakahan manusia pada sumber daya alam, atau peringatan Allah Swt atas makhluknya yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa?

Jika ada menteri paling sibuk di minggu-minggu ini, mungkin hanyalah Mensos Tri Rismaharini. Baru saja menjabat sebagai menteri hasil reshufle, dia harus berbagi tugas dengan Presiden Jokowi. Pak Jokowi meninjau banjir Kalsel dan Bu Mensos meninjau korban gempa di Mamuju dan Majene, Sulbar. Habis itu dia terbang lagi ke Jember, memberikan bantuan pada korban banjir di Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo Kab. Jember (Jatim). Saking sibuknya, orang Jawa bilang seperti kinjeng cewok (capung cebok).

Mestinya ini tugas Yuliari Batubara. Tapi apa daya, Mensos dari PDIP ini baru setahun bertugas sudah ketahuan belangnya, cari uang lebihan dari pemberian paket Bansos. Maka sejak kepemimpinan Tri Rismaharini tak ada lagi paket Bansos. Semua bantuan dari Kemensos ditransver lewat bank atau Kantor Pos. Maka pihak-pihak yang suka memproyekkan sumbangan pemerintah, menjadi gigit jari karenannya.

Dan Presiden Jokowi tak keliru menunjuk Tri Risma yang tak kenal capek ini jadi Mensos. Selepas kunjungan ke daerah gempa Mamuju-Majene, dia terbang ke daerah banjir Jember dan hari berikutnya sudah tiba daerah banjir Manado (Sulut). Tapi hari berikutnya lagi Bu Mensos sudah tampak berbincang dengan Bupati Lumajang Thoriqul Haq untuk membicarakan persiapan menghadapi letusan Gunung Semeru yang terus batuk-batuk tapi bukan gejala Corona itu.