Rasisme dan Intoleransi di Sekitar Kita

Ilustrasi keberagaman (bobo). Sikap rasis dan intoleran bagai permukaan gunung es, banyak terjadi di sini. Di tengah keberagaman dan kebinekaan Indonesia,kebersamaan dan toleransi harus ditanamkan sejak dini.

GARA-gara memposting konten menjurus rasisme di FB terhadap mantan Komisioner Komisi HAM Natalius Pigai, Ketua Relawan Pro-Jokowi-Amin Ma’ruf  Ambroncius Nababan ditersangkakan dan dan ditahan polisi

Kasusnya bermula akibat kekesalan Nababan atas polah Pigai yang menurut dia terus menyerang kebijakan pemerintah tanpa dasar khususnya terhadap Presiden Jokowi termasuk pengadaan vaksin Covid-19.

Dipostingan FB-nya, Nababan selain melontarkan narasi sindiran terhadap pernyataan Pigai, juga mengunggah foto Pigai bersanding dengan gorila yang menurut dia cuma mengambil dari sumber medsos lain.

Nababan sudah meminta maaf pada rakyat Papua, asal suku Pigai dan kepada Pigai sendiri, namun polisi tetap mempersangkakan Nababan karena tuduhan penyebaran konten rasisme dan menahannya selama 20 hari sejak 27 Januari di Rumah Tahahan Negara Barskrim Polri.

Pigai sendiri saat diwawancarai awak TV menyebutkan dia tidak ikut melapokan postingan mengarah rasisme pada dirinya. “Saya tidak ingin waktu saya habis mengurusi hal-hal semacam itu, karena tugas saya adalah berujuang menegakkan dan membela HAM, ” ujarnya.

Selain melanggar HAM jika terbukti, apa yang dilakukan Nababan itu tentu sangat merugikan pemerintah, apalagi yang saat ini berupaya untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI terutama di wilayah Papua yang diwarnai aksi-aksi kelompok kriminal bersenjata yang terus berupaya mempengaruhi warga di sana melepaskan diri dari Indonesia.

Kasus rasisme dan toleransi di negeri ini sebenarnya bagaikan fenomena gunung es yang cuma tampak di permukaan, baik di tengah kehidupan sehari-hari, mencuat menjadi konflik antaretnis atau muncul saat helat besar kegiatan politik seperti Pilkada atau Pilpres lalu.

Di ranah publik, aksi-aksi rasis atau intoleransi sudah terbiasa, mulai dari lingkup bocah. Kerap terjadi, seorang anak yang berbuat curang, kebodohan atau tidak menyenangkan di kelompoknya diolok-olok asal sukunya. “Misalnya: dasar Jawa, Batak, Ambon, Papua  etc.”