SETYAKI MBALELA (1)

Patih Udawa "ngompori" Haryo Setyaki bahwa SWB sama sekali tidak pantas jadi raja Dwarawati.

MESKI menjadi calon pewaris tahta kerajaan Dwarawati, tapi sampai usia kepala empat Raden Samba Wisnubrata (SWB) belum juga menikah. Jangankan berumahtangga, pacaran saja tidak pernah. Tak ada cewek yang mau cadi gacoannya. Sebab penampilannya sama sekali tak meyakinkan. Tampang siH lumayan cakep, tapi bodinya tipis macam kertas tissue. SWB juga tak punya kesaktian apa-apa, karena males berguru pada resi maupun begawan.

Lagaknya saja sok ksatria, berani menyelesaikan masalah tanpa bikin masalah seperti kantor Pegadaian. Tapi begitu ada masalah, dia memilih enyah. Nantinya yang diminta maju Haryo Setyaki, sapukawat Dwarawati. SWB sendiri hanya nonton di pojok lapangan sambil mengelus-elus kumis dan berewokannya yang baru saja dipiara. Ngakunya sih biar tampak angker dan berwibawa.

“Wayang kayak gitu mau jadi raja Dwarawati? Kayak apa jadinya negara ini,” gerutu wayang kelas akar rumput.

“Nantinya negara Dwarawati bisa dibeli.” Komentar wayang lain yang juga sama-sama kelas akar rumput.

Memang, ketokohan SWB sebagai pewaris tahta sama sekali tidak terlihat. Mau dapat Wahyu Cakraningrat saja gagal, karena tidak tahan  uji. Oleh karena itu tokoh Dwarawati yang menonjol hanya dua. Selain Prabu Kresna itu sendiri, juga Haryo Setyaki yang digelari Sapukawat Dwarawati. Buktinya, jika ada masalah apapun di Dwarawati yang ditanya pers hanyalah Prabu Kresna dan Haryo Setyaki. Putra mahkota SWB sama sekali tak dilirik, karena dia bukan tokoh news maker (menarik perhatian).

Bagaimana dengan Patih Udawa? Dia sih tokoh yang pendiam, jarang ngomong pada pers. Kalaupun ngomong selalu ada pesan: of the record! Jadi percuma saja wartawan wawancara sama dia karena pasti tak boleh dimuat. Namun demikian dia mencatat dan mengkritisi semua kejadian di Dwarawati. Jika ada yang tak berkenan Udawa langsung kontak Prabu Kresna.