Hari-hari Terakhir Rezim Junta Myanmar

Pengunjuk rasa menolak kudeta di Myanmar (12/2) mengenakan kostum penganten, pakaian ala pocong dan kostum karakter Ninja, Power Ranger dan lainnya untuk menarik simpati.

CENGKERAMAN rezim junta militer dipimpin Jenderal Min Aung Hlaing yang melancarkan kudeta terhadap pemerintah sipil Myanmar awal Februari lalu kian terasa, tetapi pertanyaannya sampai kapan kekuasaannya bisa dipertahankan?

Taruhlah dengan “todongan senjata” rakyat tidak berani adu kuat berhadap-hadapan langsung, semakin meluasnya aksi-aksi unjuk rasa dan pembangkangan juga mengancam perekonomain dan kehidupan di negara seribu pagoda itu.

Kelompok aksi aksi demo semakin meluas, tidak hanya warga yang sadar politik, tetapi juga kaum remaja yang selama ini tidak tertarik pada politik, bahkan para bhiksu yang biasanya hanya berdiam di biara-biara.

Bahkan dilaporkan satuan polisi sebagian juga membelot, ikut gabung bersama pendemo lainnya, begitu pula aparat sipil negara, guru-guru, dosen dan pekerja industri serta kelompok masyarakat lainnya.

Berbeda dengan aksi-aksi unjukrasa bermotif politik yang biasanya diwarnai aksi-aksi kekerasan dan teriakan kebencian, pendemo remaja mengekspresikan dunia mereka dengan mengenakan pakaian modis, berlaku “nyleneh” atau dengan polah yang mengundang simpati.

Sekelompok remaja yang berunjuk rasa di Naypyidaw mengenakan pakaian mirip pocong dengan kaca mata hitam dengan membawa aneka spanduk, yang lain mengenakan kostum berkarakter Power Rangers, Spiderman dan lainnya dan ada juga yang mengenakan pakaian pengantin.

Tidak hanya menggalang solidaritas di dalam negeri melalui postingan di Wa, instagram, Twitter atau FB, mereka juga menjalin alinsi dengan rekan-rekan mereka di Thailand dan Hong Kong yang juga mengalami situasi politik serupa.

Rezim militer, berdalih, mereka mengambil alih kekuasan dari tangan sipil, karena menganggap pemilu yang digelar November tahun lalu penuh dengan kecurangan.

Nikmatnya Kekuasaan

Namun di balik itu, sudah menjadi rahasia umum, puluhan tahun kelompok militer menikmati privilege kekuasaan yang juga bergelimang kemewahan sehingga enggan dilepaskan.