Disastronomics (2): Mengarusutamakan Peran Perempuan dalam Penanganan Bencana

Perempuan adalah penanggung beban terberat dampak bencana, terutama di kalangan keluarga miskin. Bencana membuat mereka lebih miskin lagi. Perempuan seperti sudah takdirnya sebagai pelaku utama yang urus anak-anak, lansia dan penyandang disabilitas. Juga untuk tugas regenerasi, yang diawali dengan reproduksi.

Disastronomics perlu mengarusutamakan kegiatan-kegiatan yang terkait pemberdayaan perempuan, mulai dari upaya pencegahan, pengurangan risiko, tanggap darurat sampai pemulihan (rehabilitasi dan rekonstruksi). Perempuan adalah tulang punggung atau backbone alias babon dalam bahasa Jawa atau ibu dari peradaban.

Perempuan adalah penanggung beban terberat dampak bencana, terutama di kalangan keluarga miskin. Bencana membuat mereka lebih miskin lagi. Perempuan seperti sudah takdirnya sebagai pelaku utama yang urus anak-anak, lansia dan penyandang disabilitas. Juga untuk tugas regenerasi, yang diawali dengan reproduksi.

Kepedulian kita terhadap korban bencana perlu terus ditingkatkan, tapi tetap harus ingat nasib perempuan miskin di wilayah non bencana yang terpaksa kerja banting tulang tanpa imbalan memadai untuk topang ekonomi rumah keluarga.

Peduli korban bencana = harus lebih aktif berjuang keras untuk merdekakan perempuan dari penjajahan bencana kemiskinan. Kita berutang budi kepada kaum perempuan sebagai ibu untuk keberlanjutan generasi, kelahiran, dan kemajuan peradaban. Perempuan sehat, cerdas, dan sejahtera adalah tolok ukur keadilan dan kemakmuran bangsa!

Transformasi paska Bencana

Bencana yang dipicu kejadian alam, pada gilirannya akan melahirkan lingkungan hidup baru yang mempengaruhi kehidupan penduduk, dan sebaliknya. Itu sudah hukum alam atau sunatullah.

Yang perlu diwaspadai dan dikembangkan adalah keberlanjutan yang terus berlangsung menuju arah yang lebih baik bagi manusia dan lingkungannya secara timbal-balik.

Bencana juga melahirkan berbagai kesempatan untuk melakukan perbaikan (transformasi). Berkat bencana bisa dibuat kebijakan tata ruang baru yang lebih baik dan dipatuhi para pihak, atau akan datang bencana baru lagi.

Kegiatan disastronomics harus mengawal proses ini sejak awal sampai pelaksanaannya, termasuk monitoring dan evaluasi. Penyiapan sumber daya manusia yang sesuai, terutama generasi muda dengan bimbingan pakarnya, sungguh penting. Sekali lagi, peranan kaum perempuan juga tidak boleh dilupakan.

Perencanaan pembangunan holistik yang transformatif pasca bencana adalah bisnis yang menarik. Termasuk di dalamnya perencanaan investasi dan pelaksanaan infrastruktur, fasilitas umum, dan fasilitas sosial pro-poor for growth.

Di balik setiap kesulitan ada kemudahan.
Di balik bencana ada bahagia.
Di balik derita ada gembira.

Selalu terkandung makna atau hikmah dari setiap kejadian bagi orang yang berilmu berkat belajar dan berpikir, menggunakan otaknya. Dan, setelah selesai dalam suatu hal, kerjakan yang lain dengan sungguh-sungguh. Sesungguhnya selalu ada harapan bagi orang beriman. Semuanya sudah termaktub dalam firman Tuhan (QS: 94). Di balik musibah, ada berkah. Amal, ilmu, dan iman.

Pinjaman lunak (utang dengan bunga 2%) dari IMF/Bank Dunia untuk program recovery Lombok dan Sulteng dapat lahirkan bencana baru, terutama kalau utang itu tidak bisa hasilkan nilai tambah di atas 2%. Artinya, utang itu harus untuk kegiatan produktif, bukan konsumtif. Lebih parah lagi, jika utang itu digunakan untuk tujuan politik jangka pendek, ditambah lagi dengan korupsi. Jika ini terjadi, utang itu membuat negeri ini semakin terpuruk masuk jurang bencana.

Bahwa negeri ini masih dipercaya untuk diberi utangan, patut disyukuri. Tapi yaitu tadi, kita tidak boleh terlena tidur dinina-bobokkan oleh yang lunak-lunak, selunak apa pun utang harus dibayar plus bunganya.

Terkait dengan “keinginan politik” bisa tumbuh bengkak jadi disastrolitics, bencana politik yang tak lekang waktu. Ini juga terjadi karena kesengajaan manusianya (partai, simpatisan yang rela mengaku sebagai relawan juga) untuk melakukan kegiatan sesaat untuk segelintir orang-orang(nya). Bahkan bisa disebut Tsunami Politik(us).

Prinsip baik, benar, perlu, dan mulia dalam kaitan dengan disastronomics perlu diterapkan dengan seksama. Alasannya, yang baik belum tentu benar, yang benar belum tentu baik, yang baik dan benar belum tentu perlu. Yang perlu belum tentu baik dan benar dan sebagainya (dan sebaliknya, mohon dibolak balik sendiri).

Ketiganya terkait dengan unsur tepat tempatnya dan saatnya (empan, papan, zaman). Jika ketiganya tepat akan terwujud sesuatu yang bermanfaat dan mulia: baik, benar, dan perlu demi kepentingan bersama.

Semangat Gotong Royong

Semangat gotong royong misalnya, di Jawa kita kenal dengan istilah holopis kuntul baris, di Riau dikenal dengan istilah batobo, di Bali dengan istilah ngayah dan, pada masyarakat Sulawesi Tengah dengan istilah sintuvu.

Secara sederhana gotong royong dapat diartikan bekerja bersama sama dalam menyelesaikan pekerjaan guna kepentingan bersama. Juga, bersama-sama menikmati hasil pekerjaan secara adil. Masing-masing memberikan kontribusi tanpa pamrih, secara sukarela (tanpa imbalan) sesuai kemampuan masing-masing.

Bencana bisa menjadi sarana membangun kembali semangat gotong royong. Dan ini juga bagian dari pengamalan Pancasila, khususnya sila ketiga “Persatuan Indonesia”. Dalam pandangan Islam, gotong royong adalah saling tolong-menolong mengajak untuk berbuat kebaikan dan menjauhkan keburukan.

Umat Islam dapat mewujudkan rahmatan lil alamin. Dan, budaya gotong royong bisa meredam konflik horizontal antara anggota masyarakat, termasuk dan terutama karena perbedaan ideologi partai politik. Budaya dapat memberi sumbangsih positif bagi masyarakat bangsa dan umat manusia.

Ayo bangkit! Bencana adalah kawah candradimuka untuk menggembleng Sumber Daya Manusia (SDM), ladang amal, bukan panggung politik praktis, kapitalisme BOB ASU (Biar Orang Buntung, Asal Saya Untung) dan korupsi.