Hukum Mati Koruptor, Siapa Takut?

ilustrasi koruptor (harianyogya). Praktek korupsi di Indonesia makin nekat dan tak ada matinya. Pantas dihukum mati?

WACANA hukuman mati terhadap “tikus-tikus” penggerogot keuangan negara dan rakyat yang makin nekat, tidak jera-jera dengan leluasa melakukan praktek korupsi sejak puluhan tahun berlangsung muncul lagi.

“Mereka layak dituntut pidana mati sesuai Pasal 2 ayat 2 UU Tindak Pidana Korupsi No. 31 tahun 1999, “ tegas Wamenkumham E. O. Sharif Hiariej terkait tersangka kasus korupsi mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhie Prabowo dan mantan Mensos Juliari Batubara.

Edhie Prabowo dicokok KPK setibanya dari luar negeri karena dugaan suap soal penunjukan impor benur lobster dan penunjukan perusahaan pengangkutannya (Nov.’20), sedangkan Juliari terkait penerimaan suap Rp17 milyar dari penyaluran sembako (awal Des’ ’21).

Pasal 2 ayat (2) UU 31Tahun 1999 Tipikor: “Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan”.

Penjelasannya: “Yang dimaksud dengan ‘keadaan tertentu’ dalam ketentuan ini adalah keadaan yang dapat dijadikan alasan pemberatan pidana bagi pelaku TPK yaitu apabila dilakukan terhadap dana-dana yang diperuntukkan bagi penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas, penanggulangan krisis ekonomi dan moneter dan penaggulangan TPK”.

Sedangkan Pasal 2 ayat 1 menyatakan, “Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1miliar rupiah”.

“Selain dilakukan di tengah bencana nasional, bahkan bencana global  pandemi Covid-19 dan juga dalam kapasitasnya sebagai menteri, tuntutan pidana mati layak dikenakan bagi keduanya, “jelas Omar Sharif.