SETYAKI MBALELA (3)

“Dia selalu nyebut Dik Wati, gitu. Mungkin pacar ndara SWB, seorang seniwati (pesinden), Sinuwun.” Kata pembantu kadipaten.

“Nggak mungkin lah, SWB putraku kok pacaran sama pesinden, itu ngesorake (menurunkan) derajat calon mertua, tahu!”

“Kalau sudah tir pada irenge, sir padha senenge (sama-sama suka), orangtua  bisa apa kecuali hanya merestui.” Patih Udawa ikut nimbrung.

Karena HP-nya sudah lama mati, Prabu Kresna pinjam HP Patih Udawa. Ternyata HP SWB juga tidak aktif. Begitu pula pusaka Kaca Paesan miliknya, ketika dibuka juga tak ada sinyal sama sekali. Padahal dalam kondisi normal pusaka Dwarawati ini sangat informatip. Tanya apa saja bisa menjawab, meskipun kini sering diselipi iklan juga.

Padahal aslinya, SWB siang itu berada di keputren istana Trajutrisna, ketemu Dewi Hagnyanawati, istri Prabu Setija yang sekaligus merupakan kakak ipar atau ipe. Bagaimana mungkin istri dari kakak kandung sendiri kok dikencani. Tapi jaman milenial begini sudah banyak terjadi, karena ipe dianggap akronim: iki ya penak (ini enak juga).

“Jangan lama-lama di sini  dimas Samba, nanti keburu kangmas Setija datang.” Ujar Dewi Hagnyanawati.

“Tenang saja. Kangmas Setija masih di pertapan Balekambang, nunggui rama Kresna. Pokoknya situasi dijamin mantap terkendali.” Jawab SWB meyakinkan.

Bayangkan, SWB sebagai pangeran mangkubumi kok hobinya mangku bini orang! Ini kan merusak citra dan nama besar Prabu Kresna selaku pendiri negara Dwarawati. Pantas saja Patih Udawa ikutan sebel menyikapi kelakuan SWB. Betapa tidak? Seringkali aturan yang sudah dibuat Prabu Kresna-Patih Udawa, karena disposisi SWB aturan jadi mentah lagi. SWB dapat uang, Udawa yang meradang.

Dan tentu saja, ketika Udawa hanya meradang, Prabu Setija marah besar ketika mendengar isyu istrinya dikencani oleh adiknya, SWB. Awalnya dia tak percaya, tapi burung Garuda Wilmana kendaraan pribadinya yang bisa bicara macam manusia berani sumpah bahwa dia menyaksikan sendiri bagaimana Samba-Hagnyawati menjalin asmara, akhirnya percaya juga.