SETYAKI MBALELA (3)

“Kok kamu tahu istriku selingkuh sama Samba adikku?” tanya Prabu Setija.

“Lha dia kencan di bawah pohon beringin, sedangkan saya mapah (bertengger) di dahan di atasnya.” Jawab Garuda Wilmana.

Pantesan Hagnyanawati suka telpon-telponan diam-diam, jika suami mendekat langsung HP dimatikan. Rupanya ini to biangkeroknya. Dan ternyata, ketika Garuda Wilmuna ditantang sumpah mubahalah macam “ustadz” Sugik Nur, tak berkeberatan. Maka sehabis bezuk rama Prabu Kresna di Balekambang, Setija segera naik Garuda Wilmuna kembali ke Trajutrisna. Kata burung sakti tersebut, di taman keputren keduanya sedang berhoho hihi….. astra lungiyat (memadu kasih).

Dan ternyata benar, dari luar tilam rum (kamar) terdengar desahan misterius Hagnyanawati. Pintupun didobrak paksa, begitu terbuka kondisinya betul-betul seperti film bokep yang ada di internet. Tentu saja Prabu Setija emosi dan tak bisa lagi mengendalikan amarahnya. Samba yang bugil itu langsung ditangkap dan dibanting, lalu dijedotin ke tembok. Sedangkan Hagnyanawati kabur lewat jendela.

“Biadab kamu, teganya kamu makan istri kakak sendiri….” maki Setija.

“Ampun kangmas Setija, ampun…..” SWB merata minta diampuni.

Tapi Prabu Setija tak peduli. Dengan golok tukang jagal, Samba dimutilasi. Garuda Wilmuna seperti promotor tinju saja, malah menyemangati. Ketika kepala SWB masih utuh dengan mata melotot, dia minta Setija untuk menghancurkan sekalian. Dan Prabu Setija melaksanakan dengan penuh dendam. Begitulah, Garuda Wilmuna terus menyemangati sampai tubuh SWB  tercabik-cabik jadi kecil-kecil laksana abon.

Maunya Prabu Setija, daging cincang SWB itu hendak diblender sekalian. Tapi tiba-tiba muncul Prabu Kresna, melihat sisa pakaian yang berserakan di lantai, tahulah bahwa korbannya memang SWB putra kesayangannya. Dia marah dan sedih, kenapa Setija sekejam itu pada adik sendiri hanya gara-gara soal wanita.