SETYAKI MBALELA (3)

“Setija, gila kamu ya? Ini kan adikmu sendiri, kenapa setega itu. Jangan main hakim sendiri.” Omel Prabu Kresna.

“Rama nggak ngalami sendiri, sih. Bayangkan seperti apa rasanya batin ini, istri diserobot orang lain, justru adik sendiri. Ini yang lebih tega saya, atau Samba sendiri?” Prabu Setija tetap mendebat ucapan ayahnya.

Raja Dwarawati itu mencoba menasihati putra sulungnya, tapi sudah tak digubris oleh Setija. Semuanya sudah terlambat. Meskipun dinasihati sepanjang hari, abon SWB takkan jadi orang dan tak mungkin hidup lagi. Dan karena Prabu Kresna semakin nyinyir, mengkorek peristiwa yang sudah berlalu, raja Trajutrisna itu menjadi jengkel.

“Samba sudah mati, mau diapakan lagi. Kalau bapaknya nggak terima, maju sekalian sini.” Ujar Setija keterlaluan.

“Hai, ayah Samba kan saya, berarti kamu berani melawan orangtua? Kamu nggak menghargai ayah yang telah  menjadi lantaran (sarana)  kamu ada di dunia…” ujar Prabu Kresna masih mencoba bersabar dan menasihati.

Tapi jawaban Setija justru semakin menyakitkan. Katanya, dia lahir di bumi kan gara-gara bapak iseng sama emak belaka. Tak ada niat mau bikin anak bernama Setija atau Samba. Tuh kan! Maka Prabu Batara Kresna jadi naik pitam, lupa akan bocoran informasi dari Jonggring Salaka yang baru saja diterimanya. Panah senjata Cakra dilepaskan dan tepat mengenai dada Setija. Raja Trajutrisna itu tewas seketika.

Tapi karena Setija memiliki ajian Pancasona lungsuran (bekas) Prabu Dasamuka, dia bisa hidup kembali setelah menyentuh tanah. Untung raja Dwarawati  ini menemukan akal, dia pinjam steger proyek. Ketika Setija berhasil dipanah kedua kalinya, segera dilemparkan ke atas steger, dan matilah Prabu Boma Nrakasura itu untuk selamanya.