Perginya Seorang Algojo MA

Perkara demikian numpuk di tangannya, selama 18 tahun kerja di MA Artidjo dalam sehari selesaikan 3-4 perkara.

SAMPAI kursi Presiden RI di tangan Jokowi hari ini, banyak yang bilang bahwa penegakan hukum di Indonesia masih belum memuaskan, jika tak mau disebut lemah. Maka para pengamat pun bilang, andaikan Kapolri-nya seperti Hugeng Imam Santosa, Jaksa Agung-nya seperti Baharuddin Lopa, dan HakimAgung-nya seperti Artidjo Alkostar; bereslah negara ini. Sayangnya mereka bertiga menjabat tidak dalam satu masa jabatan, sehingga kedodoran terus. Di masa Hugeng Imam Santosa (1968-1971), Baharuddin Lopa belum terlihat kiprahnya. Begitu pula di masa Baharudin Lopa (selama 27 hari tahun 2001), Artidjo Alkostar juga belum muncul kegarangannya. Dan ketika Artidjo Alkostar menjabat (2000-2018) dan menunjukkan taringnya, Baharuddin Lopa juga sudah tiada.

Dan penjaga pintu terakhir keadilan itu, hari Minggu kemarin (28/02) telah tutup usia dalam usia 72 tahun. Kepergiannya banyak diratapi orang, kecuali oleh para terpidana korupsi tentunya. Ketika Artidjo pensiun saja dari MA tahun 2018 lalu,  para pasien KPK itu langsung “syukuran”. Sebab saatnya mereka kembali ajukan kasasi atau PK kembali. Dan memang sepeninggal Artidjo Alkostar, MA terkenal obral diskon hukuman dengan alasan koreksi atas vonis yang salah. Kok jadi seperti pertokoan besar menjelang Lebaran ya?

Alasan MA, hakimnya bisa saja salah, karena yang namanya kesalahan itu sangat manusiawi. Oleh karenanya, ketika MA mencoba mengoreksi putusan para Hakim Agung, itu juga belum tentu benar, karena lagi-lagi para Hakim Agung penerus Artidjo Alkostar juga manusia biasa. Ujung-ujungnya, koreksi terakhir hanya oleh Sang Pencipta, tapi itu nanti ketika Hari Pembalasan telah tiba.

Terlepas benar atau keliru diskon-diskon MA, yang pasti sejumlah terpidana  kurupsi itu telah menikmati “budi baik” para Hakim Agung sepeninggal Artidjo tersebut. Misalnya saja, Angelina Sondakh dari 12 tahun tinggal 10 tahun, Choel Mallarangeng dari 3 tahun 6 bulan menjadi 3 tahun penjara. Pengacara OC Kaligis dari 10 tahun menjadi 7 tahun. Eks Ketua DPD Irman Gusman, dari 4 tahun 6 bulan menjadi 3 tahun.. Mantan Anggota DPRD DKI Jakarta M Sanusi dari 10 tahun menjadi 7 tahun.