Pembunuhan Kolumnis Jamal Khashoggi, AS Nggak Akan Hukum Saudi

Jamal Khashoggi/ Aljazeera

JAKARTA – Amerika Serikat (AS) tidak akan memberikan sanksi tertentu terhadap Arab Saudi, terkait dugaan keterlibatan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Washington hanya akan mengawasi pelaksanaan Hak Asasi Manusia (HAM) di Saudi.

Jumat (27/2/2021) pekan lalu, dalam sebuah dokumen, AS mengumumkan bahwa, pada 2018, MBS menyetujui operasi untuk menangkap, atau membunuh Khashoggi. Dalam dokumen itu, AS juga menyetujui sanksi terhadap sejumlah tokoh dan lembaga di Saudi.

Langkah tersebut mengundang kritik dari kelompok pembela HAM. Mereka mempertanyakan komitmen Presiden AS Joe Biden dalam penegakan HAM. Padahal, sebelumnya dia berkomitmen untuk memprioritaskan HAM dalam kebijakan luar negerinya.

Ned Price, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS menjelaskan, pihaknya akan lebih berfokus pada pelaksanaan HAM di Saudi, di masa depan. Dan, kata Price, itu bukanlah sebagai tanda perpecahan kedua negara. Tapi, lebih sebagai peninjauan ulang.

“Kami mencoba membahas masalah sistemik yang mendasari pembunuhan brutal Jamal Khashoggi,” ujar Price, dikutip laman rmol.

Di saat yang sama, AS juga menyambut baik pembebasan dua aktivis HAM di Saudi baru-baru ini. Namun, dia juga meminta Saudi untuk berbuat lebih banyak dengan mencabut larangan perjalanan bagi mereka. “Kami juga mendesak Saudi untuk meringankan hukuman dan menyelesaikan kasus-kasus seperti para aktivis hak perempuan dan lainnya,” katanya.

Juru Bicara Gedung Putih, Jen Psaki menambahkan, AS berhak memberikan sanksi pada MBS, jika dirasa perlu, dan dengan menggunakan cara mereka sendiri. Tapi secara historis, AS, dengan presiden yang berasal dari Partai Demokrat dan Republik, biasanya tidak memberikan sanksi pada para pemimpin pemerintah negara lain.

“Secara khusus di negara-negara tempat kami memiliki hubungan diplomatik,” jelas Psaki.