Penjelasan BMKG Tentang Hujan Es di Yogyakarta

Ilustrasi Sisa tumpukan butiran hujan es di Dipati Ukur Bandung, Rabu (19/4/2017) seperti salju/ Twitter Infobdg

YOGYAKARTA – Koordinator Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara dari Badan Klimatologi, Meteorologi, dan Geofisika (BMKG), Hary Djatmiko, menjelaskan tentang fenomena hujan es di Yogyakarta yang terjadi Rabu, 3 Maret 2021.

Menurutnya, fenomena tersebut adalah fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi dan termasuk dalam kejadian cuaca ekstrem.

“Dapat dimungkinkan terjadi pada musim hujan dengan kondisi cuaca sama seperti masa transisi atau pancaroba,” kata Hary.

Fenomena hujan es sendiri disebabkan oleh adanya awan cumulonimbus (CB) yang mengandung tiga macam partikel, yakni butir air, butir air super dingin, dan partikel es.

“Biasanya awan berbentuk berlapis-lapis dan seperti bunga kol di antara awan tersebut, ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi yang akan cepat berubah warna menjadi hitam,” ujarnya.

Fenomena hujan es biasanya terjadi sangat lokal, dengan luasan berkisar 5-10 km saja. Selain itu, prosesnya singkat kurang dari 10 menit. Kejadiannya pun lebih sering terjadi antara siang dan sore hari.

Kendati demikian, Hary menjelaskan bahwa fenomena hujan es tidak bisa diprediksi secara spesifik, hanya bisa diprediksi setengah sampai satu jam sebelum kejadian.

Hary menegaskan bahwa karakter hujan es hanya berasal dari awan CB, meski tak semua awan CB yang menimbulkan hujan es. “Dan kemungkinannya kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama dan dalam waktu yang singkat,” ujarnya, dikutip iNews.