PENDAWA BANCAKAN (2)

Dikiranya dapat nasi besekan, Dewi Kunthi pun minta Drupadi "dimakan" berlima saja.

NAMA Wara Drupadi memang sangat terkenal di jagad perwayangan, khususnya negeri Pancalaradya. Dia menjadi idola para pemuda di banyak negara. Tapi ya sekedar mengidolakan belaka. Untuk mempersuntingnya kelewat berat. Jika syarat sudah bekerja dan bebas organisasi terlarang, itu mudah sekali. Tapi syarat tambahan harus mampu mengalahkan Patih Gandamana, ini yang ngeri-ngeri sedap. Dia itu terkenal sekali akan kesaktiannya. Selain memiliki ajian Blabak Pengantol-antol, juga punya ajian Wungkal Bener, padahal Gandamana tak pernah mengasah pisau atau golok.

Sudah menjadi tradisi anak-anak Pendawa Lima, setiap memiliki hajatan besar selalu minta restu dan petunjuk para sesepuh atau stakeholder negara. Siapa itu? Tak lain tak bukan adalah Begawan Abiyasa di Candi Saptahargo. Dia adalah mantan raja Ngastina di masa lalu. Begitu selesai menjabat langsung mundur dari dunia politik, tak pernah menyinyiri pemerintahan selanjutnya, sejelek apapun negara itu dikelola sekarang. Benar-benar Abiyasa telah mbegawan. Beda dengan negara sebelah, sudah mantan Wapres masih masih seperti Don King, jadi sponsor pertinjuan politik lewat Pilgub.

“Kira-kira niyatmu didukung oleh Eyang Abiyasa nggak?” ujar Ibu Kunthi ingin menjajagi tekad Bima putra keduanya.

“Pasti mendukunglah, beliau kan selalu mendukung setiap langkah positip anak muda putra bangsa. Dia adalah begawan 100 persen, tak pernah punya kepentingan bisnis. Saat jadi raja Ngastina dulu, Abiyasa juga nggak pernah bisnis gas melon dengan mengatasnamakan negara.” Jawab Bima to the point.

Matahari masih sepenggalah, keluarga Pendawa berenam berangkat ke padepokan Candi Saptahargo, kira-kira dekat Kecamatan Saptosari Gunung Kidul, tak jauh dari sanggar milik pelukis Sapto Hudaya. Tiba di sana sang begawan baru saja selesai ngaji. Dengan pakaian kebesaran jubah dan sorban di kepala Abiyasa menemui cucu-cucunya. Asal tahu saja, meski namanya pakai “abi” tapi mantan raja Ngastina itu sama sekali bukan orang PKS.