Vaksin Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Apa Bedanya?

Selain vaksin Sinovac yang diperoleh dari skema kerjasama bilateral dengan China, RI juga menerima vaksin AstraZeneca yang berasal dari jalur multilateral yang dikoordinasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Aliansi Vaksin dan Imunisasi Global (GAVI).

POLEMIK muncul di tengah publik tentang jenis-jenis vaksin yang akan digunakan dalam program vaksinasi di Indonesia yang menyasar 181,5 juta penduduk guna membentuk herd immunity atau kekebalan massal.

Vaksin yang dibeli pemerintah RI melalui negosiasi langsung atau relasi bilateral adalah Sinovac buatan Biotech, China yang sudah mulai disuntikkan bertahap dimulai dengan Presiden Jokowi sejak 13 Januari.

Selain memesan dalam bentuk vaksin jadi, Indonesia melalui PT Bio Farma, Bandung juga bermittra dengan Biotech untuk melakukan dua kali uji klinik tahap ke-3 vaksin Sinovac melibatkan masing-masing sekitar 1.600 relawan.

Sebelumnya dalam uji klinis yang dilakukan April hingga Mei 2020 lalu hasilnya telah dipublikasi di jurnal ilmiah The Lancet pada 17 November dengan kesimpulan, bisa dilanjutkan ke uji klinis tingkat III.

Selain di Indonesia uji klinis tahap III vaksin Sinovac yang juga dilakukan di  Brazil, Turki dan Bangladesh,  menurut Ketua Tim Peneliti dari Universitas Padjadjaran, Profesor Kusnandi Rusmil, berjalan lancar.

Pada tahap awal sampai Juni 2021 ditargetkan 40,3 juta lebih penduduk Indonesia terdiri dari sekitar 1,4 juta nakes, 17,4 juta petugas layanan publik dan 21,5 juta lansia sudah divaksinasi (dua kali suntikan, selang 14 hari, kecuali lansia 28 hari).

Program vaksinasi mencakup 181,5 juta penduduk sesuai harapan Presiden Jokowi diharapkan tuntas akhir 2021 walau sejumlah pakar kesehatan dan epidemiologi memperkirakan paling cepat 15 bulan atau sekitar akhir Maret 2022.

Vaksin Sinovac menggunakan platform inactivated virus alias virus utuh yang sudah dilemahkan yang berdasarkan rekomendassi Badan Kesehatan Dunia (WHO) terbukti manjur melawan irus flu dan polio.

Menurut Sekretaris Eksekutif Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Dr dr Julitasari Sundoro, MSc-PH, efek samping vaksin yang dikembangkan dengan metode tersebut relatif kecil seperti  nyeri lokal, pegal-pegal, hingga demam ringan.