Covid-19 Bisa Menjadi Penyakit Musiman

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, pandemi Covid-19 seperti halnya influenza, bisa berubah menjadi penyakit musiman akibat cuaca. Namun demikian, munculnya mutasi virus corona menjadi sejumlah varian baru, tetap menjadi ancaman global.

BADAN Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, Covid-19 yang menjadi pandemi global saat ini dapat berubah menjadi penyakit musiman biasa seperti halnya influenza atau flu.

Hal itu terungkap dari hasil laporan awal tim Badan Meteorologi Dunia beranggotakan 16 orang yang ditugaskan meneliti dampak perubahan iklim dan kualitas udara pada penyebaran Covid-19.

Kesimpulan awalnya, seperti dilaporkan oleh AFP ((18/3), infeksi virus pernapasan sering kali bersifat musiman, khususnya pada puncak musim gugur sampai musim dingin untuk influenza dan musim dingin sampai sedang (musim semi-red) untuk virus corona (SARS-CoV-2).

Namun demikian, menurut mereka, peran pemerintah di tiap negara untuk menegakkan peraturan tentang protokol kesehatan (3M), pembatasan perjalanan serta mencegah kerumunan jauh lebih penting untuk mengendalikan penyebaran virus tersebut.

“Jadi pelonggaran prokes pada saat iklim berubah (yang menyebabkan penyebaran virus menurun-red), tidak bisa dijadikan pembenaran, “ kata Ketua Tim Ahli PBB, Ben Zaitchik dari Departemen Ilmu Bumi dan Planet di Universitas Johns Hopkins Amerika Serikat.

Menurut dia, tahun pertama pandemi Covid-19 yang berawal dari kota Wuhan, Prov. Hubei, China medio Desember 2019, di beberapa tempat meningkat pada musim panas dan tidak bisa dipastikan, ledakan pandemi tidak akan terjadi lagi (pada musim panas-red)  tahun ini.

Para ahli yang hanya berfokus pada meteorologi luar ruangan dan kualitas udara dalam laporan tersebut mengatakan, penelitian laboratorium membuktikan virus corona bertahan lebih lama pada  cuaca dingin dan kering pada saat radiasi ultraviolet rendah, namun  masih belum jelas apakah pegaruh iklim juga berlaku pada tingkat penularan global.

Hasil penelitian itu juga mencatat, ada bukti awal, kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan angka kematian korban Covid-19, namun tidak bisa dipastikan, polusi secara langsung berdampak pada penularan SARS-CoV-2 melalui udara.