LIPI Sebut Manfaat Vaksin AstraZeneca Lebih Besar dari Resikonya

Selain vaksin Sinovac yang diperoleh dari skema kerjasama bilateral dengan China, RI juga menerima vaksin AstraZeneca yang berasal dari jalur multilateral yang dikoordinasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Aliansi Vaksin dan Imunisasi Global (GAVI).

JAKARTA – Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wien Kusharyoto mengatakan manfaat vaksin AstraZeneca masih lebih tinggi daripada risikonya.

Wien mengatakan vaksinasi dengan menggunakan vaksin tersebut tetap dapat dijalankan karena manfaatnya tetap lebih tinggi daripada risikonya. Manfaat itu berkaitan dengan terhindar dari COVID-19 yang berdampak parah hingga kematian.

“Sebenarnya, berbasis uji klinis sebelumnya dan penggunaannya selama ini, vaksin ini tergolong aman,” tutur Wien.

Diketahui belasan negara Eropa di antaranya Spanyol, Jerman, Italia dan Prancis telah menghentikan penggunaan vaksin AstraZeneca pekan ini di tengah kekhawatiran tentang keamanan vaksin, meskipun Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (17/3) mengatakan telah menganggap khasiat vaksin itu lebih besar ketimbang risikonya.

Penghentian sementara penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca tersebut muncul setelah ada laporan kejadian penggumpalan darah pada orang yang telah menerima suntikan vaksin tersebut.

Hingga 10 Maret 2021, sudah 30 kasus kejadian pembekuan darah terjadi di antara hampir lima juta orang yang disuntik vaksin AstraZeneca di Wilayah Ekonomi Eropa.

Menyikapi penangguhan penggunaan vaksin AstraZeneca itu, Wien menuturkan karena prinsip kehati-hatian beberapa negara tersebut menghentikan sementara vaksinasi dengan vaksin itu, hingga diketahui apakah kematian tersebut terkait langsung dengan vaksinnya.