ENDANG JAKIAH KRAMAN (1)

Endang Jakiah tewas oleh panah Kunta milik Adipati Karno, sebagai tindakan tegas dan terukur.

SEMENJAK pandemi Corona, pertapan Tunjungpuspita kehilangan murid, karena pendidikan tatap muka dilarang sementara oleh negeri Ngastina. Mengandalkan sekolah daring, jaringan internet di sekitar padepokan juga belum efektip. Itu artinya perguruan Begawan Lebda Wacana kehilangan pemasukan, karena tak ada lagi dana SPP yang bisa dipungut dari murid, bahkan dana BOP (Bantuan Operasional Pertapan) pun sudah beberapa bulan distop.

Biar pendita ahli kebatinan, keluarga Begawan Lebda Wacana tak bisa makan asap kemenyan dan nggado (makan) kembang mawar.  Mereka juga perlu makan nasi. Untuk mencari sumber penghasilan, terpaksa dia alih profesi. Jubah dan sorban kebesaran ditanggalkan, ganti kaos T-shirt dan celana ngatung untuk jadi tukang ojek pangkalan. Masker dan helm sangat membantu penyamaran Begawan Lebda Wacana, agar tak diketahui para koleganya.

“Sampeyan kan punya cucu Endang Jakiah. Minta dong bantuan dana pada ayahnya, Harjuna kesatria Madukara. Itu kan kewajiban seorang ayah pada anaknya.” Saran sesama teman pengojek.

“Alah, jangan ngomongin Harjuna deh! Dia mah “nyetrom” doang, habis itu pergi tak pernah kembali.”

Ternyata, Harjuna keluarga Pendawa Lima sampai juga blusukan ke Pertapan Tunjung Puspita. Setelah mblusuk ke kamar putri Begawan Lebda Wacana, kemudian lahirlah Endang Jakiah. Tapi semenjak kelahiran anaknya, Harjuna tak pernah lagi berkunjung ke pertapan. Boro-boro kasih BLT setiap bulan, rasa kangen pada putri hasil “setrom”-annya juga kagak.

Tapi memang begitulah karakter Harjuna yang digelari “satriya lananging jagad” itu. Kerjanya ke mana-mana cari gadis cantik, lalu dikawini barang sebentar. Setelah itu ditinggal kabur untuk tidak pernah kembali. Dan emaknya Endang Jakiah entah menjadi korban ke berapa “keris” non Pulanggeni Harjuna yang nan sakti itu. Yang pasti putri Begawan Lebda Wacana bangga betul berhasil dikencani “satriya lananging jagad” itu.