Ukraina dan Rusia di Ambang Konflik

Konsentrasi pasukan Rusia di dekat perbatasan wilayah Ukraina Timur di Donbass meningkatkan ketegangan di wilayah itu. Apakah aneksasi yang dilakukan Rusia ke Krimea pada 2014 akan terulang lagi?

TENSI hubungan antara Rusia dan salah satu negara sempalan Uni Soviet – tempat keduanya dulu bernaung – akhir-akhir ini memanas lagi pasca aneksasi sepihak wilayah Krimea, Ukraina oleh Rusia pada 2014.

Reuters melaporkan, konsentrasi unit-unit pasukan Rusia didukung kelompok proksinya atau separatis Ukraina tampak dalam beberapa hari ini di dekat sekitar wilayah Donbass, Ukraina Timur sehingga dicemaskan bakal memicu konflik bersenjata.

Eskalasi ketegangan makin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Joe Biden menelpon mitranya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (2/4) lalu dan terang-terangan menyatakan dukungannya pada Ukraina.

Dalam pembicaraan per telpon yang berlangsung 50 menit itu, Biden meyakinkan Zelensky, dukungan AS tak tergoyahkan bagi  kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina menghadapi agresi susulan Rusia di Donbass dan Krimea,”.

“Presiden Biden meyakinkan saya bahwa Ukraina tidak akan pernah sendirian melawan agresi Rusia,” kata Zelensky. Faktanya, AS tidak pelak lagi memang telah menjadi sekutu utama Ukraina sejak aksi aneksasi wilayah Krimea oleh Rusia pada 2014.

Menjelang peringatan tujuh tahun invasi Rusia dan direbutnya Krimea, AS dan Uni Eropa telah menegaskan kembali sikap mereka bahwa wilayah tersebut adalah milik Ukraina.

“Invasi Rusia dan pencaplokan Krimea” merupakan “penghinaan tak tahu malu terhadap tatanan internasional modern,” kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dalam suatu pernyataan

Sebaliknya, Rusia dalam pernyatannya mengancam, eskalasi di Donbass dapat mencapai skala “menghancurkan” jika Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) campur tangan dalam urusan internal Ukraina.

Ukraina sendiri saat ini terus berupaya mempercepat keanggotaannya ke dalam NATO agar lebih aman dari gangguan Rusia.

Tidak Seimbang

Tentu saja, tanpa bantuan AS atau kekuatan NATO, Ukraina yang sebelumnya mengandalkan pasokan persenjataan Uni Soviet bakal kewalahan menghadapi Rusia, mantan sekutunya seatap di bawah Uni Soviet di era Perang Dingin lalu.