Mundurnya Effendi Gazali

Effendi Gazali saat ditanya pers soal dipanggilnya oleh KPK. Ternyata hasil wawancaranya ada yang melintir.

SIAPA tidak kenal Effendi Gazali (54), Profesor Doktor yang menjadi pengajar di Univesitas Indonesia dan Universitas Pror. Dr. Mustopo (Beragama)? Keterkenalan dia bukan karena mengajar di dua kampus tersebut, tapi karena sering muncul di stasiun TV swasta terutama ILC TV-One. Opini dia sebagai pakar komunikasi cukup netral, tak terlihat sebagai pendukung kecebong maupun kampret. Effendi Gazali memang cukup terkenal, meski belum seterkenal Imam Ghazali filosuf Islam dari Persia.

Meski ILC-nya telah tutup, tapi minggu-minggu belakangan ini nama Effendi Gazali bertambah ngetop lagi. Gara-garanya, dia menanggalkan gelar Profesor yang diraihnya sejak 10 tahun lalu. Ini buntut berita setelah dia diperiksa KPK sebagai saksi, dalam kasus suap pengadaan Bantuan Sosial yang melibatkan Mensos Juliari Batubara. Bukannya terlibat, tapi berita tentang dirinya dipelintir sedemikian rupa oleh wartawan-wartawan muda media online, sehingga seakan-akan Effendi Gazali terseret kasus itu.

Dalam tayangan di chanel Youtube milik Refly Harun, pakar komunikasi itu mengaku gagal sebagai pengajar jurnalistik dan ilmu komunikasi selama 20 tahun lebih. Sebab dinilainya, sejumlah media kurang menaati kode etik jurnalistik ketika melakukan wawancara ataupun penulisan berita. Lantaran ulah mereka, berita A jadi terasa B, berita positip menjadi negatip. Jelas-jelas ini sangat merugikan dan bikin malu Effendi Gazali selaku dosennya. Jangankan sekelas dosen, guru SD pun sangat malu ketika muridnya melempari mangga tetangga sekolah.

Dalam kasus Bansos itu konon Effendi Gazali merekomendasikan sebuah perusahaan di Jabodetabek untuk menjadi penyalur Bansos Kemensos senilai Rp 48 miliar tersebut. Pada kasus yang melibatkan pejabat Kemensos Adi Wahyono, KPK perlu periksa Effendi Gazali sebagai saksi, karena dia disebut-sebut. Celakanya ketika Adi Wahyono ditanya pers soal keterlibatan Effendi Gazali, dia menyebut “tidak ada, tidak ada”, oleh sejumlah media masa dan online diplintir menjadi “tidak menampik”.