Kekerasan di Ruang Publik

JT, Pelaku penganiayaan terhadap perawat di RS Siloam Sriwijaya, Palembang. Lemahnya penegakan hukum, pendidikan dan literasi hukum membuat kekerasan menjadi budaya bagi yang merasa kuat untuk menyelesaikan persoalan.

BEGITU mudahnya orang melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain di negeri ini, bahkan untuk hal-hal sepele sekali pun di tengah era now yang mestinya yang dikedepankan adalah nalar, adab dan etika.

Kasus-kasus main pukul, hantam atau gebuk untuk menyelesaikan persoalan atau mungkin cuma menyalurkan nafsu primitif seseorang, sehari-hari acap kali terjadi, dan sering pelakunya bebas melenggang tanpa sanksi.

Hanya sebagian kasus yang diteruskan ke ranah hukum, terutama yang menjadi viral di medsos, selebihnya terpendam, bagaikan fenomena gunung es yang hanya tampak kecil di permukaan.

Yang barusan ramai, kasus penganiayaan yang diduga dilakukan oleh pria setengah baya, JT terhadap CRS, seorang perawat di RS Siloam Sriwijaya, Palembang (16/4).

Kapolresta kota Palembang Kombes Pol Irvan Prawira dalam gelar perkara hari ini (Sabtu, 17/4) mengungkapkan, pelaku menganiaya korban karena menyaksikan anaknya yang diawat di RS tersebut berdarah setelah jarum infus dicabut.

Pelaku yang emosi meminta korban untuk datang mengecek kondisi anaknya, dan saat korban datang menghampirinya bersama sejumlah rekan perawat lain langsung ditampar oleh pelaku.

Tidak cukup menamparnya, pelaku juga meminta korban sujud meminta maaf dan sempat menjambak rambut dan menendang korban hingga tersungkur.

Sementara Direktur Utama RS Siloam Sriwijaya Palembang, Bona Fernando mengatakan, perawat telah melakukan tindakan sesuai standar operasional prosedur.

Akibat perbuatannya, JT disangkakan dengan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman kurungan dua tahun. Selama pemeriksaan, tersangka sudah mengakui seluruh perbuatannya.

Kejadian Sehari-hari

Aksi kekerasan atau penganiayaan di ruang publik acap terjadi, misalnya di jalan-jalan raya akibat serempetan kendaraan tanpa sengaja, atau juga akibat mengendara ugal-ugalan yang disengaja.

Di lingkungan hunian kadang-kadang soal parkir mobil, lupa atau sengaja pasang rem tangan sehingga menghalangi keluar masuk kendaraan lain, menyelak antrian atau ulah yang sengaja atau tidak membuat kesal orang, bisa berujung kekerasan.