Jembatan Kota Paris

Perhatikan, di ujung jembatan Kota Paris sudah dipasang tembok perintang, eh masih juga diloncati......

YANG suka tawuran itu para kawula muda, tapi kemudian yang jadi kambing hitam jembatannya. Ini hanya terjadi di Jakarta Pusat, tepatnya antara Kelurahan Tanah Tinggi dan Kampung Rawa. Antar anak muda kedua kampung itu sering berantem karena hal-hal sepele, dan mereka menjadikan Jembatan Kota Paris sebagai akses ke “medan laga”. Sepertinya pihak kelurahan dan polisi sudah “putus asa” mengatasinya, sehingga ketika ada usulan agar jembatan tersebut dibongkar, Pemprov DKI terpaksa mengabulkan.

Sebenarnya anak muda antar kampung berantem, sudah merupakan cerita lama di Ibukota. Paling terkenal dulu adalah “pertempuran” antar anak muda Palmeriam di sebelah timur Jl. Raya Matraman, lawan anak muda Kebon Manggis (Berlan) di sebelah barat Jl. Matraman Raya. Mareka langganan tawuran, sehingga untuk mencegahnya Gubernur Sutiyoso terpaksa membangun “tembok Berlin” berupa pagar tinggi di jalan raya Matraman.

Efektifkah cara itu? Kurang jelas! Yang pasti tawuran anak muda/pelajar terus terjadi. Cuma lokasinya bergeser (atau menyebar) ke wilayah lain, misalnya Tanah Tinggi. Mereka berapa  kali bentrok dengan kampung Kota Paris yang berjarak ribuan kilometer dari Prancis. Di wilayah ini, tawuran sering berlangsung lawan warga Kampung Rawa dengan Tanah Tinggi. Terakhir pada 4 April 2020 lalu. Dan bak iklan teh gendul, apapun yang diberantemkan, lewatnya pasti jembatan Kota Paris!

Ya memang jembatan Kota Paris inilah yang menjadi akses paling vital dan strategis untuk menuju ke “medan laga”. Jembatan di atas Kali Seniong ini menghubungkan Kampung Rawa di Johar Baru dengan Tanah Tinggi. Pernah mereka berantem hanya karena soal pertandingan bola. Bulan Ramadan pun bukan penghalang bagi mereka, karena batu-batu yang ditimpukkan justru direken takjil untuk pihak lawan.